Polemik Batik “Bone Mabere” Antara Identitas Daerah dan Beban Siswa, DPRD Angkat Suara
2 min read
Ilustrasi
Bone | Intipos.com – Kebijakan penggunaan batik bermotif “Bone Mabere” di sejumlah sekolah di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menuai polemik. Selain dipandang sebagai upaya memperkuat identitas daerah, kebijakan ini juga dikhawatirkan dapat membebani siswa dan menimbulkan kesenjangan di lingkungan sekolah.
Perdebatan mencuat setelah sebagian siswa mulai mengenakan batik dengan motif baru bertuliskan aksara Lontara “Bone Mabere”. Di beberapa sekolah, perbedaan seragam antara siswa yang sudah menggunakan motif tersebut dan yang masih memakai seragam lama mulai terlihat.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Bone, Edy Syahputra Syam, menegaskan bahwa tidak ada kewajiban bagi siswa untuk mengganti seragam.
“Bagi yang tidak mampu tidak usah ganti batiknya, gunakan saja yang lama,” ujarnya, Rabu kemarin (1/4/2026).
Namun kelonggaran itu justru menimbulkan kekhawatiran lain. Perbedaan seragam dinilai dapat menciptakan kesenjangan visual di sekolah, bahkan berpotensi memengaruhi kondisi psikologis siswa.
Di sisi lain, Ketua Komisi IV DPRD Bone, A. Muh. Salam, mengaku belum mengetahui kebijakan tersebut. Ia menyebut program pemerintah daerah yang diketahuinya justru berfokus pada pembagian seragam gratis bagi siswa baru tingkat SD dan SMP.
“Saya tidak tahu itu. Yang saya ketahui program pak bupati adalah pembagian seragam sekolah untuk siswa baru,” kata legislator yang akrab disapa Lilo AK, Kamis, 2 April 2026.
Anggota Komisi IV DPRD Bone, Mukhsin, turut mengingatkan agar setiap kebijakan di sektor pendidikan tidak menambah beban bagi siswa maupun orang tua.
“Sebaiknya jangan dibebani anak sekolah,” katanya.
Sebelumnya diberitakan; Pergantian Seragam Batik Sekolah di Bone Jadi Polemik, Dikhawatirkan Bebani Siswa Tidak Mampu
(Rustan)
