Pergantian Seragam Batik Sekolah di Bone Jadi Polemik, Dikhawatirkan Bebani Siswa Tidak Mampu
2 min read
Ilustrasi
Bone | Intipos.com – Pergantian seragam batik sekolah di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan memicu perdebatan di kalangan masyarakat. Pergantian ini hanya berbeda motif.
Motif sebelumnya logo Tut Wuri Handayani kemudian untuk yang sekarang logo Tut Wuri Handayani dipadukan dengan motif khas Bone, lontara “Bone Mabere” merupakan slogan pasangan Bupati dan Wakil Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman – Andi Akmal Pasluddin.
Motif baru ini menimbulkan kontroversi karena sebagian warga menilai bisa menjadi beban bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Pihak sekolah dikonfirmasi yang tidak dipublikasikan identitasnya demi melindungi narasumber tidak mengetahui asal-usul seragam tersebut,
“Tidak tahu juga, karena ada penawaran kemarin melalui K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah),” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa seragam ini bersifat sukarela, tidak ada paksaan bagi siswa.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Bone, Edy Syahputra Syam, menegaskan bahwa penggunaan batik merupakan hak sekolah dan hanya diwajibkan pada hari tertentu dalam proses pembelajaran, yakni Rabu dan Kamis.
“Untuk penjualannya, kembali ke siswa masing-masing. Tidak ada penekanan dari pihak dinas,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap menjalankan program pembagian seragam gratis bagi siswa baru, dan bagi yang tidak mampu, tidak perlu mengganti batik lama.
Menanggapi polemik ini, Edy Syahputra Syam menyatakan akan memanggil K3S untuk memberikan klarifikasi. “Besok saya akan panggil K3S-nya,” tegasnya pada Rabu (1/4/2026).
Hal itu juga menjadi sorotan penggiat sosial Arman Rahim, seragam sekolah seharusnya menyetarakan siswa, bukan justru menonjolkan perbedaan ekonomi.
“ Jika siswa dari keluarga tidak mampu merasa terhambat untuk memakai seragam baru, hal ini berpotensi menimbulkan rasa malu dan menurunkan semangat belajar,” ujarnya.
(Rustan)
