Sederet Proyek Bermasalah di Bone, Mengapa Kontraktor yang Sama Masih Dipercaya?
2 min read
Bone | Intipos.com – Rekam jejak pelaksanaan sejumlah proyek infrastruktur yang diduga dikerjakan oleh kontraktor yang sama di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, kembali menjadi sorotan. Mulai dari proyek Jalan Perintis, ruas Jalan Langsat–Jalan Rambutan, hingga rehabilitasi ruas Jalan Cirowali–Melle, masing-masing meninggalkan catatan persoalan dalam proses maupun hasil pekerjaannya.
Sorotan pertama muncul pada proyek Jalan Perintis. Talud penahan tanah pada proyek tersebut dilaporkan ambruk hingga dua kali dalam kurun waktu kurang dari sepekan. Insiden pertama terjadi pada 5 Desember 2025. Setelah dilakukan perbaikan, struktur penahan tanah itu kembali jebol pada 11 Desember 2025.
Tak lama berselang, proyek peningkatan ruas Jalan Langsat–Jalan Rambutan juga menuai perhatian. Ruas jalan tersebut mengalami kerusakan dalam waktu yang relatif singkat, bahkan sebelum genap enam bulan sejak dinyatakan rampung pada akhir Desember 2025.
Sorotan berikutnya mengarah ke proyek rehabilitasi Jalan Cirowali–Melle di Desa Melle, Kecamatan Palakka, yang bernilai Rp16,5 miliar. Proyek yang dikerjakan PT Ridwan Jaya Lestari itu sebelumnya menjadi perhatian publik setelah jembatan yang dibangun akhirnya dibongkar. Pembongkaran dilakukan setelah muncul keluhan warga yang menduga jembatan tersebut menjadi penyebab genangan di kawasan permukiman ketika debit sungai meningkat.
Belum reda polemik pembongkaran jembatan, proyek yang sama kembali menuai kritik. Kali ini, warga mempertanyakan kualitas pekerjaan talud penahan tanah.
Sejumlah warga mengaku menemukan pasangan batu pada talud yang disebut tidak menggunakan adukan semen di sela-sela susunan batu. Kondisi itu memunculkan pertanyaan mengenai mutu pekerjaan konstruksi.
Menurut penilaian warga, susunan tersebut tidak memenuhi fungsi sebagai pondasi sebagaimana mestinya, melainkan hanya berupa susunan batu biasa atau yang dalam istilah Bugis dikenal sebagai page batu.
“Page batu (susunan batu), bukan pondasi,” ujar seorang warga.
Rangkaian persoalan yang muncul pada sejumlah proyek tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai proses pengawasan terhadap pekerjaan infrastruktur di Kabupaten Bone.
Di sisi lain, publik juga mempertanyakan mengapa kontraktor yang diduga memiliki rekam jejak sejumlah persoalan itu masih terus dipercaya mengerjakan proyek-proyek infrastruktur.
Apakah berbagai catatan tersebut telah menjadi bahan evaluasi bagi pihak terkait, atau justru ada alasan lain sehingga kontraktor tersebut tetap memperoleh kepercayaan mengerjakan proyek di Kabupaten Bone?
Pertanyaan itu kini menjadi sorotan yang menunggu penjelasan dari pihak berwenang.
(RS-Intipos)
