Media Berita Online Lugas – Tegas – Terpercaya

Tetap Waspada dan Jangan Terjebak Euforia Penurunan Kasus COVID-19

3 min read
dr. Gunadi, Ph.D, Sp.BA. (Istimewa)

dr. Gunadi, Ph.D, Sp.BA. (Istimewa)

Jakarta, Intipos.com – Berdasarkan data per 6 September 2021, angka kasus konfirmasi
turun sebesar 39%, angka kematian turun 25%, dan Bed Occupancy Rate (BOR) atau tingkat
keterisian tempat tidur jadi 22%, turun 26% dari rata-rata 7 hari terakhir. Meski begitu, masyarakat
diminta tidak lengah dan tetap waspada dengan kondisi Kasus COVID-19 yang tengah melandai seperti
saat ini.

Ketua Tim Peneliti Whole Genome Sequencing (WGS) dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan
Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) dr. Gunadi, Ph.D, Sp.BA
mengingatkan, ancaman eskalasi atau gelombang 3 COVID-19 masih ada. Terlebih, saat ini capaian
program vaksinasi belum mencapai kekebalan komunal atau herd immunity.

“Masyarakat sebaiknya tidak lengah dan euforia terlalu dini, apalagi kemudian melonggarkan
protokol kesehatan,” ujar dr. Gunadi, Rabu (8/9/2021).

Dia juga meminta pelaku usaha untuk tetap memperhatikan dan meningkatkan penerapan
protokol kesehatan dalam menjalankan usahanya. Protokol kesehatan tetap menjadi kewajiban di
tengah berbagai pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada 7-13
September 2021 ini.

Salah satu pelonggaran dalam masa perpanjangan PPKM adalah waktu makan di tempat atau dine
in di dalam mal yang dinaikkan menjadi 60 menit dengan kapasitas 50 persen. Selain itu, terdapat
pula uji coba pembukaan juga akan dilakukan di 20 tempat wisata di kota yang menerapkan PPKM
Level 3, dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dan implementasi platform
PeduliLindungi.

Baca Juga  ABPEDNAS Cetak Sejarah, Raih 100 Ribu Anggota Bertepatan Hari Lahir Pancasila 2026

“Jika ada eskalasi kasus COVID-19, tentu para pelaku usaha juga yang akan dirugikan. Karenanya,
protokol kesehatan jangan dilonggarkan, apalagi dilanggar,” katanya.

Selain itu, dr. Gunadi meminta pemerintah daerah tetap mengikuti aturan dari pusat terkait
kebijakan PPKM sesuai level masing-masing daerah. Menurutnya, meski perkembangan
penanganan kasus COVID-19 terus membaik, peran dan kerja sama pemerintah tetap harus
dimaksimalkan.

Per tanggal 6 September 2021, hanya 11 kota/kabupaten di Jawa-Bali yang ada pada Level 4 dari
yang sebelumnya berjumlah 25 kota/kabupaten. Jumlah daerah yang berada di Level 2 juga
mengalami peningkatan signifikan yaitu dari 27 kabupaten/kota menjadi 43 daerah. Di sisi lain,
wilayah aglomerasi Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami turun dari Level 4 menjadi Level 3,
sedangkan wilayah Bali masih berada pada Level 4.

“Pemerintah Daerah harus tetap mengikuti aturan kebijakan PPKM sehingga masyarakat juga
mempunyai panduan yang jelas dan spesifik untuk masing-masing daerah sesuai level PPKM-nya,”
ujarnya.

Dalam kesempatan itu, dr. Gunadi juga mengingatkan pihak Rumah Sakit harus tetap bersiaga
untuk mengantisipasi lonjakan kasus. RS perlu menyiapkan tabung oksigen, pasikan obat, dan SDM
tenaga kesehatan sebagai bentuk kesiagaan untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk
sekalipun.

Baca Juga  ABPEDNAS Cetak Sejarah, Raih 100 Ribu Anggota Bertepatan Hari Lahir Pancasila 2026

“RS tetap perlu menyiapkan langkah-langkah antisipatif bukan reaktif, sehingga selalu siap jika ada
eskalasi sehingga keparahan dan kematian tidak tinggi,” tegasnya.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi juga menekankan dengan adanya
pelonggaran aktivitas masyarakat di berbagai sektor, maka perlu diantisipasi potensi peningkatan
risiko penularan. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, peningkatan pergerakan masyarakat selalu
diikuti dengan peningkatan kasus pada 2-3 pekan setelahnya.

“Selalu patuhi protokol kesehatan, ingat penurunan level bukan berarti boleh mengendurkan
protokol kesehatan. Selain itu mohon dukungannya untuk kegiatan-kegiatan memutus penularan
seperti mengikuti dan bekerjasama untuk pelacakan kontak, karantina, testing dan isolasi,” tegas
dr. Nadia.

Menurutnya, upaya memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan,
membatasi pergerakan—serta upaya vaksinasi dan pelaksanaan 3T (testing, tracing dan treatment)
harus berjalan bersama. Vaksinasi bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi, seperti para lansia
dan orang dengan penyakit penyerta Harus menjadi prioritas.

“Sekali lagi, kami tekankan bahwa memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dan vaksinasi
harus berjalan seiringana. Kami akan terus mengingatkan kepada kita semua untuk terus
meningkatkan cakupan vaksinasi serta memastikan kelompok masyarakat rentan, seperti lansia
dan masyarakat dengan penyakit penyerta, dapat segera divaksinasi,” ujar dr. Nadia. (Risa)

Waspada Kasus COVID-19