Plt Kadis Kominfo Provinsi Sumut : Tidak ada Intimidasi atau Penghalangan Jurnalis Saat Meliput Gubernur
2 min read
Plt Kadis Kominfo Provinsi Sumut Tidak ada Intimidasi Jurnalis Saat Meliput Gubernur
MEDAN | Intipos.com – Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas (Kadis) Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Porman Mahulae mengatakan, tidak pernah ada upaya intimidasi dan penghalangan kinerja jurnalis saat mewawancarai gubernur. Insiden antara wartawan dengan tim yang menempel Bobby Nasution, Rabu (7/5) lalu, hanya sebuah kesalahpahaman dan murni singgungan di lapangan. Permasalahan tersebut juga telah selesai antara kedua pihak.
Diketahui, Rabu (7/5) tersiar video pendek yang menampilkan pemandangan wartawan TVRI Doddy Kurniawan dengan tim melekat Gubernur Sumut. Menurut keterangan Porman Mahulae, saya sempat menghubungi wartawan tersebut dan mendapat informasi, jika peristiwa tersebut hanya kesalahpahaman. Keduanya juga langsung menyelesaikan permasalahan dan Doddy Kurniawan menerima permohonan maaf tim yang melekat pada Bobby Nasution.
“Tidak ada yang menghalangi apalagi intimidasi, mereka hanya bersenggolan, dan setelah acara mereka bertemu, masalahnya sudah selesai di situ, tapi sudah ada yang meng-upload ke media sosial sehingga meluas, ini murni hanya kesalahpahaman,” kata Porman Mahulae di kantornya, Kamis (8/5).
Porman menjelaskan, sampai saat ini Gubernur Sumut Bobby Nasution selalu terbuka dengan wartawan dan selalu berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan. Bahkan menurutnya, Bobby Nasution memiliki hubungan yang cukup dekat dengan wartawan sejak menjabat sebagai Walikota Medan.
“Teman-teman wartawan pasti tahu Pak Gubernur orang yang tidak pernah menolak ketika teman-teman ingin wawancara, berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-teman wartawan dan ini sudah seperti itu sejak dia menjadi Walikota Medan, kejadian jadi kemarin itu hanya kesalahpahaman dan terlanjur beredar di media sosial,” jelas Porman Mahulae.
Porman Mahulae berharap masyarakat tidak terburu-buru menyebarkan sebuah insiden ke media sosial dan memberikan opini sepihak sebelum mengetahui kasusnya. Hal tersebut menurutnya malah bisa memicu persoalan baru yang lebih besar.
“Saya harap kita bijak dalam menggunakan media sosial, tidak sembarang upload dan memberikan opini pribadi padahal belum mengetahui sepenuhnya apa yang terjadi,” kata Porman. (RR)
