PKM Berdayakan Anak Putus Sekolah Lewat Replika Tembikar Situs Kota Cina
4 min read
Medan | Intipos.com – Pelestarian warisan budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan lembaga kebudayaan, tetapi juga dapat menjadi sarana pemberdayaan masyarakat. Semangat tersebut diwujudkan melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) bertajuk “Pemberdayaan Anak Putus Sekolah melalui Pembuatan Replika Edukatif Tembikar Situs Kota Cina di Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan.” Jum’at (26/06/26)
Program ini menjadi salah satu bentuk implementasi pengabdian kepada masyarakat yang mengintegrasikan aspek pendidikan, pelestarian budaya, serta penguatan keterampilan ekonomi kreatif.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggandeng Museum Situs Kota Cina sebagai mitra strategis. Keberadaan museum sebagai pusat informasi sejarah dan budaya memberikan nilai tambah dalam proses pembelajaran, sehingga peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya bangsa.
Program tersebut diketuai oleh Dr. Nanda Ayu Setiawati dengan anggota tim Mhd. Ihsan Nasution dan Taruli Mario Silalahi. Sasaran utama kegiatan adalah anak-anak putus sekolah di Kecamatan Medan Marelan yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan formal maupun pelatihan keterampilan.
Melalui pendekatan yang bersifat partisipatif, para peserta didorong untuk mengembangkan potensi diri sekaligus memperoleh bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pelaksanaannya, peserta mengikuti serangkaian pelatihan yang dirancang secara bertahap, mulai dari pengenalan sejarah Situs Kota Cina, pengenalan berbagai jenis tembikar hasil temuan arkeologi, hingga praktik langsung membuat replika tembikar edukatif. Beberapa bentuk replika yang diproduksi meliputi miniatur periuk, kendi, mangkuk, wadah penyimpanan, dan berbagai artefak sederhana yang terinspirasi dari koleksi peninggalan Situs Kota Cina.
Setiap tahapan pelatihan didampingi oleh tim pelaksana yang memberikan bimbingan mengenai teknik pembentukan, proporsi bentuk, proses pengeringan, hingga penyelesaian akhir produk. Pendampingan dilakukan secara intensif agar peserta mampu menghasilkan replika yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki nilai edukatif sebagai media pembelajaran sejarah dan budaya.
Lebih dari sekadar pelatihan keterampilan, program ini mengajak peserta memahami bahwa setiap bentuk tembikar memiliki nilai historis yang mencerminkan kehidupan masyarakat masa lampau.
Situs Kota Cina merupakan salah satu kawasan arkeologi penting di Sumatera Utara yang menyimpan berbagai temuan artefak sebagai bukti berkembangnya aktivitas perdagangan internasional dan interaksi budaya di pesisir timur Sumatera pada masa lalu. Melalui pemahaman tersebut, peserta diharapkan memiliki kesadaran bahwa warisan budaya merupakan aset berharga yang harus dijaga bersama.
Ketua tim pelaksana, Dr. Nanda Ayu Setiawati, menjelaskan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya memberikan pelatihan keterampilan, tetapi juga perlu membangun karakter dan rasa memiliki terhadap identitas budaya lokal.
“Kami ingin peserta tidak hanya mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi, tetapi juga memahami bahwa setiap replika yang mereka buat merepresentasikan sejarah panjang peradaban di Situs Kota Cina. Dengan demikian, mereka menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha,” ujarnya.
Selama kegiatan berlangsung, antusiasme peserta terlihat dalam setiap sesi pelatihan. Mereka aktif berdiskusi, mempraktikkan teknik pembuatan replika, hingga saling berbagi pengalaman selama proses belajar.
Pendekatan yang bersifat praktik langsung dinilai mampu meningkatkan kepercayaan diri peserta sekaligus menumbuhkan kreativitas dalam menghasilkan produk yang memiliki ciri khas budaya lokal.
Di sisi lain, keterampilan membuat replika tembikar juga diharapkan membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Produk-produk yang dihasilkan berpotensi menjadi media edukasi, suvenir wisata sejarah, maupun cendera mata yang memiliki nilai budaya tinggi. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat sosial, tetapi juga memiliki potensi menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Pihak Museum Situs Kota Cina menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program tersebut. Menurut pihak museum, kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga budaya menjadi langkah strategis dalam memperluas edukasi sejarah kepada masyarakat, terutama generasi muda yang selama ini belum banyak tersentuh program pelestarian budaya.
Sinergi tersebut dinilai mampu menghadirkan model pemberdayaan yang menghubungkan dunia akademik, pelestarian cagar budaya, dan kebutuhan masyarakat. Perguruan tinggi berperan dalam menghadirkan inovasi dan pendampingan, museum menjadi sumber pembelajaran berbasis sejarah, sementara masyarakat menjadi pelaku utama yang memperoleh manfaat langsung dari program.
Melalui pelaksanaan Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat ini, diharapkan lahir lebih banyak kegiatan serupa yang memanfaatkan potensi budaya lokal sebagai instrumen pembangunan masyarakat.
Pelestarian budaya tidak lagi dipandang sebatas menjaga benda-benda bersejarah, melainkan menjadi bagian dari proses pemberdayaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Program Pemberdayaan Anak Putus Sekolah melalui Pembuatan Replika Edukatif Tembikar Situs Kota Cina terlaksana berkat dukungan BIMA Kemdiktisaintek, LPPM Universitas Sari Mutiara Indonesia, Museum Situs Kota Cina, serta masyarakat Kecamatan Medan Marelan.
Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan upaya pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat dapat terus berjalan secara berkesinambungan, memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia di tengah perkembangan zaman. (Ay29)
