Media Berita Online Lugas – Tegas – Terpercaya

KPID Sumut Optimis Migrasi Siaran TV Analog ke Digital Buka Peluang Diversifikasi Konten Siaran

3 min read

 

Medan || Intipos.com __  Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Propinsi Sumatera Utara (Sumut) Drs Muhammad Syahrir M I Kom mengemukakan migrasi siaran televisi (TV) analog ke digital membuka peluang diversifikasi konten siaran bagi industri penyiaran.

“Secara kualitas siaran televisi akan menjadi lebih baik yang pada akhirnya akan menciptakan daya kreativitas, inovasi maupun improvisasi bagi lembaga penyiaran agar siaran yang disajikan lebih beragam dan disenangi publik pemirsanya,” ujarnya di Medan, Senin (20/6/22).

Pada prinsipnya lanjut Syahrir KPID Sumut merespon baik dan prospektif terhadap program migrasi penyiaran TV terestrial dari teknologi analog ke teknologi digital atau Program Analog Switch Off (ASO) ini tahap kedua dilaksanakan pada 25 Agustus 2022 dan tahap ketiga 2 November 2022.

Dikemukakan digitalisasi penyiaran sendiri sudah menjadi tuntutan yang harus dilakukan secepatnya seiring tuntutan perkembangan teknologi internet yang semakin cepat.

Dengan digitalisasi penyiaran setidaknya wilayah-wilayah yang ada masalah dalam menangkap siaran dapat diminimalisir terutama di wilayah 3 T (terdepan, terluar, tertinggal).

“Jika jangkauan maupun kualitas siaran sudah teratasi setidaknya hak masyarakat terhadap informasi dapat diterima secara merata, termasuk kemampuan literasi masyarakat akan semakin meningkat dengan beragamnya konten siaran yang disajikan lembaga penyiaran,” kata Syahrir yang pernah menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut ini.

Industri penyiaran katanya dipastikan akan semakin kreatif, karena masyarakat pemirsanya akan semakin luas. Kreativitas ini juga berdampak positif bagi tumbuh kembangnya peluang industri baru dalam dunia penyiaran.

Baca Juga  Rutan Kelas I Labuhan Deli Gelar Donor Darah Sambut HBP Ke- 62

“Para konten kreator maupun industri produsen house (PH) akan semakin bergeliat, karena peluang untuk mendapat pemasukan iklan akan semakin terbuka luas,” ujarnya.

Secara nasional, digitalisasi penyiaran memang suatu kebutuhan mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar seiring perkembangan teknologi informasi, namun bagi penyiaran lokal digitalisasi ini bisa menjadi tantangan, karena industri penyiaran akan semakin dinamis dan akan bersinergi dengan kreativitas para pengelola siaran.

Peluang baru bagi pelaku industri penyiaran lokal memang sangat terbuka, karena selama ini terkesan ada kesenjangan yang signifikan antara lembaga penyiaran berjaringan yang seakan memonopoli siaran nasional seakan ‘wajib’ disiarkan ke daerah.

“Dengan migrasi ke siaran digital, kesenjangan ini dengan sendirinya tidak terjadi lagi, karena siaran lokal dan nasional memiliki kualitas siaran yang sama,” ujarnya.

Begitu juga untuk siaran lokal lanjutnya yang selama ini kalah bersaing dengan siaran nasional yang dikelola televisi berjaringan akan mudah ditonton publik pemirsa, karena masyarakat dapat memilah dan memilih siaran yang diinginkan secara cepat dan berkualitas.

Tantangan industri kreatif sebagai output dari digitalisasi penyiaran yang terbuka ini harus dijawab dengan kesiapan sumber daya manusia. Jangan terpolarisasi lagi dengan istilah pusat dan daerah.

“Kualitas siaran yang semakin baik dan merata ini harus dijadikan peluang bagi semua masyarakat untuk meningkatkan perekonomian, taraf hidup maupun hak-hak lain sebagai warga negara,” ujar Syahrir yang pendiri Surat Kabar Harian Realitas Medan yang hingga kini tetap eksis di tengah banyaknya media online atau media siber.

Baca Juga  Keberhasilan Program Ketahanan Pangan Nasional, Rutan Tanjung Pura Laksanakan Panen Ayam Kampung dari Lahan Ketapang

Dengan makin berkualitas dan bervariasinya siaran secara otomatis pula pengawasan penyiaran harus semakin ketat.

“Bagi KPI dan KPI daerah, digitalisasi penyiaran akan menjadi tantangan baru, karena potensi penyalahan juga akan semakin tinggi. Tontonan harus tetap jadi tuntunan, dan ini tugas ekstra bagi KPI dan KPI daerah untuk melakukan pengawasan. Harapannya adalah peran serta masyarakat yang ikut bersama-sama untuk mengawasi tayangan informasi yang disuguhkan kepada kita,” ujarnya.

Dengan dicanangkannya Analog Switch Off (ASO) yang sudah dimulai pencanangannya dan diperkirakan tuntas sesuai taret mendatang diharapkan dapat memberi warna baru bagi dunia penyiaran.

Variasi dan kreativitas konten siaran sudah menjadi tuntutan, apalagi dengan beragamnya teknologi informasi yang diterima masyarakat tertantang di depan mata dengan maraknya informasi hoax yang tersaji melalui media sosial.

“Secara jujur, medsos sudah banyak menggerus perhatian masyarakat terhadap pertelevisian. Informasi yang cepat tapi mengabaikan keakuratan terus berseliweran setiap saat. Masyarakat seakan menikmati hiruk pikuknya sajian medos, sementara tayangan maupun kualitas siaran di televisi masih belum makaimal melakukan langkah,” ujarnya.

Dalam konteks inilah katanya digitalisasi penyiaran harus mampu memberi jawaban. Kepercayaan masyarakat terhadap konten siaran televisi harus dipertahankan, dan salah satu upayanya adalah migrasi siaran analog ke digital merupakan suatu keharusan. (Zul)

#ASO #analogswitchoff #TVdigital #siarandigitalindonesia #ASO2022