Medan | Intipos.com – Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi dan Wakil Gubsu Musa Rajeckshah menempatkan pers dan media selaku episentrum keberhasilan gerakan 3M dan Ubah Laku Baru sesuai protokol kesehatan.

Demikian salah satu kesimpulan pertemuan Gubernur Sumut dengan sejumlah wartawan di Pendopo Rumah Dinas Gubsu di Medan Provinsi Sumatera Utara, Jumat (23/10/20) sore.

Gubsu mengingatkan peran pers dan media sangat strategis menyuarakan prinsip-prinsip 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) dan mengajak masyarakat menyukseskan gerakan ini.

Baca dan bagikan Pemprov Sumut Apresiasi Peluncuran Rumah Sehat Holistik Laznas IZI

Baca juga https://siberindo.co/24/10/2020/update-covid-19-kasus-positif-bertambah-4070-jakarta-tembus-ribuan/

Saat menyerukan ajakan dan pesan-pesan pembangunan kepada masyarakat biasanya pejabat dan para tokoh selalu menyempatkan diri mengingatkan 3M dan ubah laku dan media hendaklah juga ikut mengingatkan ini dalam momen apa saja agar masyarakat jangan mengabaikan 3M dan perubahan perilaku baru sesuai protokol kesehatan.

Kepada wartawan Gubernur mengakui prinsip 3M dan perubahan perilaku baru memang perlu terus digaungkan agar terlaksana baik 3 M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) menjadi perilaku baru. Cuci tangan, jaga jarak, hindari kerumunan, berolahraga, asupan vitamin dan gizi, periksa diri jika gejala, melapor jika ada gejala.

Memang dalam 2 tahun lebih memimpin propinsi ini Edy menjunjung tinggi keterbukaan dan transparansi publik yang bertanggungjawab.

Itulah sebabnya pucuk pimpinan Sumut ini menempatkan pers dan media massa sebagai episentrum pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan Sumut, termasuk sosialisasi 3M dan Ubah Laku.

Sehubungan itu Gubsu juga mengingatkan dalam posisi episentrum itu maka pers dan media juga harus berdiri tegak lurus pada poros kebenaran dan objektivitas, kompetensi dan profesionalitas.

Hal itu juga diakui Wagubsu yang akrab dipanggil Pak Ijeck. Dia optimis pada poros konsistensi jurnalisme itu media di Sumut akan terus mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat agar publik memiliki kemampuan untuk mandiri secara ekonomi, dapat mengatur diri sendiri, karena terus disuguhi berita atau tayangan yang inspiratif, termasuk meningkatkan kesadaran 3M dan Ubah Laku.

Sejumlah pengamat dan pemerhati komunikasi publik menjelaskan komitmen Gubsu terhadap media ini bernilai prinsipil kerena peran media dalam pembangunan di Sumut sangat strategis, termasuk memberhasilkan gerakan 3M dan ubah laku.

Artinya, ada hubungan antara komunikasi bermedia dengan masyarakat. Hubungan tersebut terletak dari peran media yang merepresentasikan keadaan masyarakat sesunguhnya.

Ada beberapa peran sentral media yang menggambarkan keadaan komunikasi dan interaksi antara pemerintah masyarakat. Diantaranya, media merupakan jendela pengalaman yang meluaskan pandangan dan memungkinkan kita untuk memahami apa yang terjadi di sekitar kita, tanpa campur tangan pihak lain atau sikap memihak.

Media juga merupakan juru bahasa yang menjelaskan dan memberi makna terhadap peristiwa atau hal yang terpisahkan dan kurang jelas, pembawa atau pengatur informasi atau pendapat, jaringan interaktif yang menghubungkan pengirim dengan penerima melalui berbagai macam umpan balik.

Selanjutnya media juga merupakan penunjuk jalan yang secara aktif menunjukan arah, memberikan bimbingan atau instruksi, serta penyaring yang memilih bagian pengalaman yang perlu diberi perhatian khusus dan menyisakan aspek pengalaman lainnya.

Media juga merupakan cermin yang memantulkan citra masyarakat terhadap masyarakat itu sendiri, biasanya pantulan citra itu mengalami perubahan atau distorsi karena ada penonjolan terhadap segi yang ingin dilihat para anggota masyarakat.

Jadi jelas dalam pembangunan Sumut termasuk memberhasilkan gerakan 3M dan ubah laku media memiliki peran strategis dan pucuk pimpinannya yakni Gubsu bersama Wagubsu dan Sekdaprovsu yang komit terhadap peran media itu akan membuat Sumut lebih maju dan bermartabat.

Hanya saja Gubsu berharap dalam setiap hal media jangan lah cenderung bersikap kritis negatif, melainkan kritis konstruktif. Sebab dia menyadari rasanya aneh kalau media tidak memberitakan hal yang kritis terhadap yang dilakukan pemerintah, namun itu tadi, hendaklah bersifat konstruktif.

Kritik jangan lah bersifat personal, menuduh tanpa didukung oleh fakta dan bukti yang kuat atau menampilkan judul yang kerap kali di luar kerangka etika. Hendaklah mematuhi azas praduga tidak bersalah. Kalimat sinis dan tuduhan tajam jangan dibiasakan.

Dengan begitu pers di Sumut akan tetap sejalan dengan komitmen pers nasional yang mempunyai empat fungsi, yaitu fungsi sebagai media informasi, fungsi sebagai pendidikan, fungsi sebagai hiburan, fungsi sebagai kontrol sosial dan fungsi sebagai lembaga ekonomi.

Gubsu optimis media di Sumut akan terus berperan dan memiliki idelisme dalam kinerja jurnalistik sehingga fungsinya sebagai lembaga ekonomi tidak lebih dominan dan tidak hanya mementingkan tiras, rating atau share semata.

Jadi jelas bahwa pers maupun media juga diharapkan harus ikut bartanggung jawab untuk menciptakan keamanan dan kondusivitas serta keberlangsungan pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan di Sumut, termasuk memberhasilkan gerakan 3M dan Perubahan Perilaku Baru. (01/Zulfikar)