Media Berita Online Lugas – Tegas – Terpercaya

Edy Rahmayadi Merasa Kesadaran Masyarakat Cegah Covid-19 Masih Harus Dipacu

4 min read
Edy Rahmayadi

Gubsu Edy Rahmayadi saat mengampanyekan pemakaian masker secara benar.

Features oleh Ir Zulfikar Tanjung

INTIPOS | MEDAN – Meski berbagai upaya telah dilakukan namun bagi Edy Rahmayadi, Gubernur Sumatera Utara, kesadaran kolektif masyarakat mencegah Covid-19 masih harus dipacu.

Itu lah sebabnya, Edy yang bisa dibilang merupakan tokoh sentral dalam penaggulangan Covid-19 di Propinsi Sumatera Utara, sejak pandemi ini menggejala tampak betul-betul serius mengomandoi penanganannya.

Kepada wartawan Intipos.com, Zulfikar Tanjung, Minggu (11/10/20) di Medan, Edy yang mantan Pangkostrad ini mengaku kunci sentral dalam upaya penanggulangan pandemi ini yang terutama adalah bangkitnya kesadaran kolektif masyarakat.

Pelibatan aktif masyarakat menjadi kesuksesan utama penanganan pandemi COVID-19, terutama dalam kesadaran 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) dan perubahan perilaku baru mematuhi protokol kesehatan.

Untuk itu pendekatan yang dilakukan harus tepat. Intinya, mengajak masyarakat keluar dari krisis ini.

Itulah sebabnya Gubernur Sumut (Gubsu) H Edy Rahmayadi dan Wakilnya H Musa Rajeckshah terus berupaya dengan berbagai program membangkitkan kesadaran masyarakat mencegah Covid-19 ini.

Pengamatan wartawan, sistem koordinasi juga terus dilakukam Edy Rahmayadi, baik di tingkat propinsi bersama Forkopimda Sumut, OPD Pemprov Sumut, serta para tokoh masyarakat, agama dan lainnya, juga kepada kabupaten dan kota serta pemerintah pusat dan Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Pusat Doni Manardo.

baca juga : KBPP Polri Deli Serdang Kampanye 3M dan Galakkan Perubahan Perilaku Baru 

Pendekatan yang ada saat ini harus lebih diefektifkan dengan melakukan akselerasi penguatan di masyarakat sehingga muncul partisipasi dan kesadaran penuh untuk bersama-sama dengan pemerintah mengatasi permasalahan ini.

Gubsu bersama Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Pusat Doni Manardo.

Pengamat sosial kemasyarakatan alumni USU Medan Hafian Tan juga mengakui salah satu penyebab sulitnya penanganan Covid-19 adalah masih banyaknya masyarakat yang tidak khawatir terhadap virus yang hingga kini belum ada vaksinnya.

Mereka katanya beranggapan tidak mungkin terpapar Covid-19, bahkan sebagian tidak percaya adanya Covid-19. Hal ini merupakan tren yang mengkhawatirkan dan harus dicari upaya mengatasinya dengan meningkatkan kesadaran masyarakat.

(Perbaiki Persepsi)

Berdasarkan survei yang dilakukan Satgas Penanganan Covid-19 pada 5 provinsi di Indonesia, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), Jawa Timur (Jatim) dan Kalimantan Selatan (Kalsel), kelompok yang percaya tidak akan tertular Covid-19 cukup tinggi.

Baca Juga  Pengurus SMSI Sergai Siap Gelar Muskab I, Dijadwalkan 21 Mei 2026

Yang tidak khawatir dengan Covid-19 di Provinsi DKI mencapai 4,4%, Jabar 5%, Jateng 4,8%, Jatim 4,5% dan Kalsel 3%. Sedangkan yang merasa tidak berisiko terpapar wabah ini di DKI 30%, Jabar 16,7%, Jateng 18,3%, Jatim 4,5% dan Kalsel 14,9%.

Menurut Doni Manardo, persepsi ini sangat menentukan kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan. Kurangnya kesadaran masyarakat akan penerapan protokol kesehatan membuat semakin sulitnya mengendalikan penyebaran Covid-19.

baca juga : KBPP Polri Deli Serdang Kampanye 3M dan Galakkan Perubahan Perilaku Baru 

“Saya rasa di Sumut tidak berbeda jauh dari 5 daerah tersebut. Padahal saat ini satu-satunya obat adalah protokol kesehatan. Kelompok dengan persepsi seperti ini sudah tentu abai dengan protokol kesehatan, padahal mereka sangat rentan terpapar dan menyebarkan Covid-19,” kata Doni.

Tidak sedikit dari dua kelompok tersebut berasal dari usia produktif, dimana di Sumut usia produktif (31-45 tahun) paling tinggi kasusnya.

Dari 9.749 kasus konfirmasi positif (per 24 September) sebanyak 31,87% merupakan usia produktif, sedangkan kasus meninggal berada di usia lanjut 46-59 tahun (36,61%) dan 60 tahun ke atas (41,77%).

“Tingkat kesembuhan tertinggi Sumut itu ada di usia produktif yakni 32,47%, tetapi rata-rata yang menjadi penyebar juga di usia ini, mereka masih sangat aktif dan mobilitasnya tinggi,” ujarnya.

Bila kelompok ini tidak disiplin lanjutnya protokol kesehatan, dia sangat mungkin menjadi penyebar dan imbasnya pada usia lanjut, apalagi OTG juga banyak terdapat di usia produktif,” tambah Doni.

Doni menyarankan agar GTPP Covid-19 Sumut memberikan penekanan lebih mengendalikan penyebaran Covid-19 di Sumut. Ini karena lebih dari 50% kasus konfirmasi berada di Medan.

“Medan itu kasusnya hampir 6.000, lebih setengah dari total kasus. Bila ini bisa ditekan maka penurunannya akan sangat signifikan. Ini tidak mudah, butuh kerja sama semua pihak dan kesadaran kolektif masyarakat, tetapi saya yakin Sumut mampu untuk itu,” ujar Doni yang juga merupakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI.

baca juga : https://siberindo.co/11/10/2020/hadapi-macedonia-utara-shin-tae-yong-siapkan-jurus-baru/

(Berbagai Upaya)

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi menyampaikan, GTPP Covid-19 Sumut telah melakukan berbagai upaya untuk menekan penyebaran Covid-19 seperti penyekatan Medan, Binjai dan Deli Serdang (Mebidang), patroli protokol kesehatan dan razia masker, hingga penambahan laboratorium PCR.

Baca Juga  Wagub Sumut Ajak KAKAMMI Jadi Garda Terdepan Cegah Narkoba dan Perkuat Generasi Muda

Menurut Edy Rahmayadi, langkah masif tersebut mampu menurunkan jumlah kasus baru di Sumut. Mudah-mudahan ini mendapat dukungan dari masyarakat dan pihaknya terus berupaya membangkitkan kesadaran masyarakat tersebut.

“Langkah-langkah yang kita ambil cukup mampu menurunkan jumlah kasus baru. Dua minggu terakhir ada penurunan walau belum begitu signifikan,” ujarnya.

Tetapi bila kita terus konsisiten, lanjut Gubsu maka dia yakin ini bisa di tekan. Pada hari Jumat 25/9 lalu kasus baru minus 14 dibanding hari sebelumnya. “Kita harap penurunan ini terus meningkat,” kata Edy Rahmayadi.

Saat ini GTPP Covid-19 Sumut sedang berupaya untuk meningkatkan jumlah spesimen yang diuji.

Berdasarkan anjuran WHO, kawasan dengan jumlah penduduk 14 juta seperti Sumut membutuhkan kemampuan uji spesimen 2.000/hari sedangkan Sumut saat ini masih di angka rata-rata 1.100 per hari.

baca juga : Tidak Patuhi 3M dan Perilaku Baru, Tim Satgas Covid-19 Mebidang Bertindak Tegas

“Saat ini kita punya 11 lab yang mampu menguji rata-rata per hari 1.100 sampel, tetapi hitung-hitungan WHO kita butuh uji sampel 2.000 perhari. Kita akan coba penuhi itu dengan dukungan dari pemerintah pusat,” kata Edy Rahmayadi.

Sementara itu, Doni Manardo saat berkunjung ke Sumut bersama Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dan beberapa anggotanya juga memberikan bantuan kepada Sumut.

Bantuan tersebut antara lain 2 unit ventilator, 200.000 lembar masker kain, 30.000 masker non-medis, 20.000 masker KN95, 2.000 face shield, 50 hazmat dan 10 jerigen hand sanitizer (@5 liter). Gubernur Edy Rahmayadi pun sangat berterima kasih atas bantuan ini.

“Kami sangat berterima kasih atas bantuannya dan dalam waktu dekat kita dapat bantuan alat untuk lab PCR tiga unit sehingga akan membantu kita meningkatkan jumlah spesimen yang diuji. Kalau dari keterangan Pak Doni besok alat untuk lab PCR akan tiba di Sumut,” tambah Edy Rahmayadi. (intipos/zul)