Media Berita Online Lugas – Tegas – Terpercaya

Dangkal, 6 Desa Jadi Lokasi Langganan Banjir Tahunan

3 min read
6 Desa Jadi Lokasi Langganan Banjir Tahunan

6 Desa Jadi Lokasi Langganan Banjir Tahunan

Banyuasin | Intipos.com – Ada 6 Desa dalam Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera selatan menjadi langganan terendam saat datang musim banjir tahunan, lantaran semenjak era reformasi ini sebagian lahan warga berubah fungsi dari lahan sawah menjadi perkebunan dan saluran air di wilayah 6 Desa dalam zona Karang Agung ini tidak terawat dengan baik, kini terjadi pendangkalan permanen saluran Primer, Sekunder termasuk saluran tersiernya.

Warga setempat yang meminta nama aslinya tak disebutkan dalam pemberitaan di media ini ketika berbincang dengan wartawan beliau mengungkapkan genangan air tahunan telah dirasakan semenjak tanaman kebun kelapa sawit baik milik warga maupun perusahaan mulai produksi sekira awal tahun 2000 an.

Selain itu dari pihak Pemerintah Desa sudah melakukan berbagai upaya melalui program gotong-royong, karena anggaran desa terbatas untuk itu dari pemerintah Kecamatan hingga Pemda Banyuasin juga dari Pemprov. Sumsel terkait ada musim banjir tahunan yang biasa merendam permukiman masyarakat dari 6 Desa ini tidak begitu menjadi prioritas dalam penangananya, termasuk dari wakil rakyat baik yang di Kabupaten, Provinsi dan DPR RI nya.

Sekarang masih jauh-jauh hari kami sebagai warga mensuarakan keluhan bertepatan mulai memasuki tahun politik, kalau saja ada yang punya kepentingan berkenan membantu, jika butuh suara kemenangannya kelak, mumpung belum datang musim banjir tiba, ucap Maman bukan nama aslinya.

Masih kata Maman (nama samaran red) suara kemenangan politik di-6 Desa jumlahnya ada ribuan, jika untuk suara di DPRD Kabupaten saja kalau mutlak bisa dua kursi dalam satu Parpol, maka jika memang ada yang berkenan membantu menormalisasi aliran baik Skunder dan primer, silahkan jangan hanya sekedar janji melulu, itu termasuk Bupati dan Gubernur, tutupnya.

Baca Juga  Ciptakan Kondisi Kondusif, Polsek Medan Area Grebek Sarang Narkoba

Terpisah seperti yang dikutip perbincangan wartawan sorotkamera.com pada 10 Juni 23 dengan Kepala Desa (Kades) Suka Raja Muh. Ridwan mengungkapkan dampak genangan air didesanya termasuk di lima Desa lainya itu sudah menjadi langganan setiap tahun ketika tiba musim penghujan dan air laut pasang. Hal itu efek dari terjadinya saluran air mengalami pendangkalan.

Efek dari rendaman air didesanya membuat berbagai aktivitas masyarakat menjadi lumpuh dan sudah tentu persoalan ini akan menjadi delima padahal sudah terjadi serta dikeluhkan oleh warga di 6 Desa di Kecamatan Tungkal Ilir, terang Kades.

Masih kata Kades, dari 6 Desa langganan yang banjir,  selain didesanya Desa Sukaraja terjadi di Desa Suka Mulya, Karang Asem, Marga Rahayu, Karang Mulya dan Desa Karang Anyar. Yang terparah terdampak banjir tahun 2022 itu Desa Karang Mulya dan Karang Anyar.

 

“Kalau upaya untuk menanggulangi masalah di 6 Desa jadi langganan Terendam tiap tahun itu sudah dilakukan rembukan sampai tingkat Kecamatan bahkan Kabupaten juga libatkan berbagai perusahaan yang operasi di wilayah Kecamatan Tungkal Ilir, namun sampai saat ini masalah itu masih belum dapat solusi yang baik dan tepat”, beber Kades.

Baca Juga  Advokat Sebagai Pancawangsa Penegak Hukum; PERADI PROFESIONAL Dorong Kesetaraan Advokat sebagai Aparat Penegak Hukum Indonesia

Agar musim banjir tahun ini tidak terjadi lagi, solusinya seluruh aliran irigasi yang ada di 6 Desa yang dimaksud mulai dari saluran tersier yang saat ini banyak ditumbuhi batang sawit itu kudu ditumbangkan dan saluran Skunder serta saluran Primer pun ada upaya dilakukan pengerukan, tujuanya apabila musim air laut pasang serta datang musim penghujan yang airnya masuk permukiman masyarakat supaya cepat surut, hingga permukiman masyarakat jadi aman dari ancaman terpendam air lagi.

Permukiman Eks transmigrasi ini dibangun era Presiden RI masih HM Soeharto tahun 1985 dan dulunya untuk Zona Karang Agung ini dulu semuanya lahan persawahan padi yang setiap 5-6 bulan saluran Primer dan Sekunder selalu dilakukan pembersihan rutin oleh Pemerintah melalui DPU Perairan, tapi sejak era reformasi hingga saat ini tak ada lagi untuk pembersihan saluran Primer dan Sekunder, sekarang dari sebagian masyarakat beralih usahanya muka perkebunan sawit yang akibat zat asam yang begitu tinggi setiap musim panen padi saat ini hasilnya tidak bisa maksimal lagi.

Jika belum ada perhatian yang serius baik dari Pemerintah dan DPRD baik dari Kabupaten dan Provinsi bahkan di Pusat tentu aktivitas perekonomian bagi masyarakat zona Karang Agung akan lumpuh dan sarana transportasi darat pun tak dilalui, tutup Kades sembari berharap ada solusi menghadapi musim banjir tahun ini. (waluyo)