Media Berita Online Lugas – Tegas – Terpercaya

BMKG Gelar Sekolah Lapang Cuaca Nelayan dan Sekolah Lapang Iklim 2026 di Kubu Raya, Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Cuaca Ekstrem

3 min read

KUBU RAYA | Intipos.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali menyelenggarakan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) 2026 dan Sekolah Lapang Iklim (SLI) 2026 di Provinsi Kalimantan Barat. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Balai Pertemuan Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Senin (3/8/2026).

Kegiatan ini dihadiri Anggota DPR RI Komisi V Syarif Abdullah Alkadrie, Staf Ahli Bupati Kubu Raya Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Hefmi Rizal, S.Pi., M.Si. yang mewakili Bupati Kubu Raya, Deputi Bidang Klimatologi BMKG yang diwakili Plh. Kepala Balai Besar Meteorologi,

Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II Tangerang Selatan Ana Oktavia Setiowati, S.Si., M.Si., Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Kepala Balai Besar MKG Wilayah II, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kubu Raya, Kepala UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat, Koordinator UPT BMKG Provinsi Kalimantan Barat, para Kepala Stasiun Meteorologi se-Kalimantan Barat, Camat Sungai Kakap, Danramil 1207-07 Sungai Kakap, Kapolsek Sungai Kakap, Kepala Desa Sungai Kakap, serta para nelayan, petani, dan penyuluh.

 

Mewakili Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, Hefmi Rizal menyampaikan apresiasi kepada BMKG atas penyelenggaraan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan dan Sekolah Lapang Iklim yang dinilai sangat bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi perubahan cuaca dan iklim.

 

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan BMKG ini. Program ini sangat membantu para nelayan dan petani dalam mendeteksi lebih dini kondisi cuaca yang dapat memengaruhi produktivitas hasil perikanan maupun pertanian. Saat ini perubahan iklim semakin tidak menentu sehingga informasi cuaca menjadi kebutuhan yang sangat penting,” ujarnya.

Baca Juga  Warga Laporkan Dugaan Distribusi Ilegal BBM Solar Subsidi Lintas Sulsel-Kolaka, Dua Nama Disebut dalam Laporan

Menurut Hefmi, informasi cuaca dan iklim yang akurat akan membantu masyarakat menentukan waktu melaut maupun pola tanam yang tepat sehingga risiko kerugian dapat diminimalkan.

 

“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan jumlah pesertanya semakin bertambah sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Kubu Raya,” tambahnya.

 

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG yang diwakili Plh. Kepala Balai Besar MKG Wilayah II Tangerang Selatan, Ana Oktavia Setiowati menjelaskan bahwa BMKG telah menyediakan berbagai informasi resmi mengenai cuaca, iklim, dan kegempaan yang dapat diakses masyarakat melalui berbagai kanal resmi BMKG.

 

Menurutnya, Sekolah Lapang Cuaca Nelayan dan Sekolah Lapang Iklim diselenggarakan agar masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memahami cara memanfaatkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

 

Bagi nelayan, materi yang diberikan meliputi prakiraan arah angin, tinggi gelombang, arus laut hingga informasi daerah potensi penangkapan ikan. Dengan informasi tersebut, nelayan dapat merencanakan waktu keberangkatan dan lokasi penangkapan secara lebih tepat sehingga penggunaan bahan bakar dan perbekalan menjadi lebih efisien.

Baca Juga  Sambut Hut Ke - 81 Kemerdekaan, Rutan Kelas I Labuhan Deli Ikuti Doa Kebangsaan Lintas Agama dan Kick Off Semarak Kemerdekaan Kemenimipas

 

“Nelayan diharapkan tidak lagi sekadar mencari ikan, tetapi sudah mengetahui lokasi yang memiliki potensi tangkapan sehingga aktivitas melaut menjadi lebih efektif dan hasil tangkapan dapat meningkat,” jelas Ana.

 

Untuk sektor pertanian, Sekolah Lapang Iklim membekali para petani dan penyuluh mengenai cara menyesuaikan pola tanam dengan kondisi musim yang terus berubah. Hal ini dinilai penting agar produksi pertanian tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau yang lebih panjang.

Dalam kesempatan tersebut, BMKG juga mengingatkan potensi fenomena El Nino yang diperkirakan berdampak pada musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Di Kalimantan Barat, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan gambut, serta memicu kekeringan dan berkurangnya ketersediaan air bersih.

 

Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memperbarui informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG, tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta bersama-sama menjaga lingkungan guna mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Melalui penyelenggaraan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan dan Sekolah Lapang Iklim 2026, BMKG berharap para nelayan, petani, penyuluh, serta pemerintah daerah dapat semakin siap menghadapi dampak perubahan iklim, meningkatkan produktivitas sektor perikanan dan pertanian, serta mengurangi risiko bencana hidrometeorologi di Kalimantan Barat. (Defri)