Aspal Baru Jalan Andalas Menuai Tanya, Bagaimana Pengawasannya?
3 min read
Bone |Intipos.com – Permukaan aspal pada ruas Jalan Andalas, Kota Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menjadi perhatian warga. Pasalnya, hasil pengaspalan yang baru dikerjakan terlihat memiliki tekstur kasar dan berpori di sejumlah titik, sehingga memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait mutu pekerjaan tersebut.
Pantauan Intipos.com di lokasi menunjukkan, permukaan jalan tampak belum sepenuhnya rata. Agregat batu masih terlihat jelas di bagian atas lapisan aspal, berbeda dengan karakter aspal yang umumnya padat dan halus. Meski belum mengganggu arus lalu lintas, sebagian pengguna jalan menilai kondisi ini berpotensi mempercepat kerusakan, terutama saat musim hujan.
“Kalau dilihat sekilas memang sudah hitam dan baru, tapi teksturnya terasa kasar. Harapannya kualitasnya bisa bertahan lama,” ujar salah seorang warga yang kerap melintas di ruas jalan tersebut.
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang (BMCKTR) Kabupaten Bone sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Jumran, menjelaskan bahwa kondisi tersebut masih berada pada tahap awal pekerjaan pengaspalan.
“Itu posisi awal pengaspalan, jadi wajar kalau terlihat agak kasar. Nanti bisa dilakukan pemburasan atau hamparan tipis,” ujar Jumran.
Ia juga menyebutkan, pada tahap awal pekerjaan, penyetelan alat finisher terkadang belum stabil sehingga masih memerlukan penyesuaian manual di lapangan.
“Namun tetap akan kami cek kondisinya. Kalau memang perlu diperbaiki, saya akan sampaikan kepada penyedia untuk segera melakukan perbaikan,” tegasnya.
Terkait pemadatan, Jumran memastikan proses tersebut telah dilakukan sesuai prosedur. “Kami lihat pemadatannya berjalan baik, menggunakan tandem roller dan tire roller,” jelasnya.
Saat disinggung kemungkinan penyebab tekstur aspal yang kasar, seperti faktor suhu aspal atau pemadatan, Jumran mengakui hal tersebut bisa menjadi salah satu faktor teknis. Namun menurutnya, kondisi itu masih dapat diperbaiki.
“Biasanya kalau permukaan agak kasar, lama-kelamaan bisa menjadi lebih halus setelah sering dilalui kendaraan. Apalagi ini hanya di titik tertentu,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pengawasan pekerjaan tetap dilakukan secara berkelanjutan. “Pengawasan tetap ada. Kondisi seperti ini hanya di satu titik dekat tugu, bukan satu ruas penuh, dan insyaallah akan dibenahi. Ada solusinya,” tambahnya.
Jumran turut memastikan bahwa suhu aspal saat penghamparan masih berada di kisaran 140 derajat Celsius.
Sementara itu, seorang mantan pekerja di bidang konstruksi jalan, Ardi, menjelaskan bahwa secara umum kualitas pengaspalan dipengaruhi oleh sejumlah faktor teknis, seperti kadar aspal, proses penghamparan, serta pemadatan saat material masih panas.
“Perbedaan tekstur di lapangan bisa saja terjadi karena variasi teknis. Untuk memastikan kualitasnya, tetap perlu dilakukan pemeriksaan sesuai standar,” ujarnya.
Ia menambahkan, penilaian mutu pengaspalan tidak cukup hanya melalui pengamatan visual, melainkan perlu didukung dengan uji teknis, seperti uji ketebalan, kepadatan, dan kadar aspal.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan pekerjaan infrastruktur jalan memenuhi standar keselamatan, kenyamanan, serta memiliki daya tahan sesuai umur rencana.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, proyek pengaspalan ruas Jalan Andalas ini dikerjakan oleh CV Icon Perkasa Abadi, yang diduga merupakan anak perusahaan PT Amal Loponindo. Proyek tersebut dibiayai melalui Bantuan Keuangan Provinsi (BKP) Sulawesi Selatan Tahun Anggaran 2025 dengan total anggaran mencapai Rp48,75 miliar, yang mencakup beberapa ruas jalan di wilayah Kota Watampone. (Rustan)
