Talud Proyek Jalan Rp16,5 Miliar di Bone Diduga Gunakan Batu Kapur, Dinas Sebut Dipakai di Jalan Nasional
2 min read
Bone | Intipos.com – Proyek rehabilitasi jalan senilai Rp16,5 miliar di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, diduga menggunakan batu gamping atau batu kapur sebagai material utama pasangan talud penahan tanah.
Pantauan di lokasi menunjukkan batu yang digunakan berwarna putih kekuningan dengan tekstur kasar. Ciri-ciri tersebut identik dengan batu kapur yang dikenal memiliki porositas tinggi.
Di sekitar lokasi pekerjaan juga tampak sisa material berupa campuran tanah urug dan pecahan batu berwarna serupa. Material itu diduga merupakan bekas tumpukan batu yang digunakan untuk pasangan talud.
Penggunaan material tersebut menjadi sorotan karena talud dibangun di sepanjang ruas jalan yang melintasi kawasan persawahan. Kondisi tanah di lokasi itu cenderung jenuh air dan kerap tergenang sehingga membutuhkan material yang memiliki ketahanan tinggi terhadap kelembapan.
Secara umum, batu kapur memiliki karakter lebih lunak dibandingkan batuan keras. Dalam kondisi terus-menerus terendam air atau lumpur, batu kapur berpotensi mengalami pelapukan lebih cepat sehingga kekuatannya dapat menurun.
Berdasarkan papan informasi proyek, rehabilitasi jalan tersebut dibiayai melalui APBD yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun Anggaran 2026 dengan pagu anggaran Rp16,5 miliar. Salah satu ruas yang dikerjakan ialah Cirowali–Melle oleh kontraktor pelaksana PT Ridwan Jaya Lestari dengan masa pelaksanaan 180 hari kalender.
Menanggapi dugaan tersebut, Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas BMCKTR Bone, Jumran membantah material yang digunakan merupakan batu kapur.
“Bukan batu kapur itu. Secara fisik masih kelihatan kuat dan keras. Batu itu baru bisa pecah kalau menggunakan alat breaker,” kata Jumran, Senin, 6 Juli 2026.
Menurut dia, warna batu tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk menentukan jenis material.
“Jangan tertipu dengan warna. Kadang ada batu yang permukaannya terlihat putih, tetapi sebenarnya masih keras,” ujarnya.
Ia juga mengatakan batu dengan karakteristik serupa digunakan pada sejumlah proyek jalan nasional.
“Batu seperti itu juga dipakai di jalan nasional,” katanya.
Meski demikian, dugaan penggunaan batu kapur pada proyek tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian material dengan spesifikasi teknis. Pasalnya, talud dibangun di kawasan dengan tingkat kelembapan tinggi dan berpotensi terus-menerus terpapar air.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada hasil uji laboratorium yang memastikan jenis batu yang digunakan pada proyek tersebut.
Media ini membuka ruang hak jawab dan hak koreksi kepada seluruh pihak yang disebut atau merasa berkepentingan dalam pemberitaan ini, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
(RS – Intipos)

