Media Berita Online Lugas – Tegas – Terpercaya

Untaian Manik-Manik Bongal Hidupkan Jejak Sejarah di Semarak Budaya 2025

2 min read


Medan | Intipos.com
Semarak Budaya 2025 kembali menjadi panggung bagi pengenalan warisan budaya melalui Pameran dan Workshop Untaian Manik-Manik Situs Bongal yang digelar oleh Rumah Budaya Tangga. Kegiatan ini menghadirkan perpaduan antara nilai sejarah dan kreativitas, sehingga mampu menarik minat pengunjung dari berbagai latar belakang.

 

Dalam pameran tersebut, pengunjung diperkenalkan pada beragam bentuk dan motif manik-manik yang terinspirasi dari temuan arkeologis Situs Bongal. Sementara itu, workshop yang digelar secara interaktif memberikan kesempatan kepada peserta untuk merangkai manik-manik secara langsung, mengikuti pola yang mengadaptasi artefak peninggalan masa lampau.

 

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada hasil karya, tetapi juga pada proses pembelajaran. Peserta diajak memahami peran manik-manik dalam kehidupan masyarakat terdahulu, mulai dari fungsi estetika, simbol sosial, hingga kaitannya dengan aktivitas perdagangan dan budaya.

Baca Juga  Perkuat Tata Kelola Pemerintahan, Pj Sekdaprov Sumut Tekankan Reformasi Birokrasi Harus Berdampak Nyata

 

 

 

 

 

 

 

Ketua workshop, Salsadila Nur Aisyah menyampaikan bahwa pendekatan partisipatif menjadi kunci utama agar nilai sejarah dapat diterima dengan lebih mudah oleh masyarakat. Menurutnya, pengalaman terlibat langsung akan membangun kedekatan emosional dengan warisan budaya.

 

“Manik-manik Situs Bongal menyimpan banyak cerita tentang perjalanan peradaban. Melalui kegiatan ini, kami ingin menghidupkan kembali cerita tersebut agar tidak hanya tersimpan di ruang akademik, tetapi juga bisa dinikmati dan dipahami oleh masyarakat luas,” kata Nanda Ayu.

Baca Juga  Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik, Pemprov Sumut Perkuat Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat

 

Ia menambahkan, pameran dan workshop ini diharapkan dapat menjadi pemantik kesadaran bersama akan pentingnya menjaga dan melestarikan situs-situs bersejarah. Selain sebagai sarana edukasi, kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya lokal, khususnya di kalangan generasi muda.

 

Dengan antusiasme peserta yang tinggi, kegiatan ini menjadi bukti bahwa pengemasan sejarah secara kreatif mampu menghadirkan budaya masa lalu tetap relevan di tengah kehidupan masyarakat modern. (Ay29)