16 Januari 2026

Media Berita Online Lugas – Tegas – Terpercaya

Tambang yang Menyapa Alam: Ketika ESG Menjadi Aksi, Bukan Laporan

4 min read

Oleh Ir Zulfikar Tanjung

 

 

Di balik lanskap alam Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara, berdiri sebuah kawasan industri yang diam-diam mengubah cara pandang banyak orang tentang arti “menambang”: Tambang Emas Martabe.

 

Selama ini, tambang identik dengan gundukan tanah, suara mesin, dan bayangan kerusakan alam. Namun di Martabe, narasi itu dibalik. Di sini, tambang bukan lagi sekadar kegiatan ekstraksi, melainkan arena praktik nyata Environmental, Social, and Governance — ESG — yang hidup dalam tindakan sehari-hari.

 

 

 

Lingkungan: Menambang Tanpa Merusak

 

Dari udara, area tambang Martabe tampak hijau bergelombang, dengan petak-petak reklamasi dan sabuk vegetasi yang menutupi bekas galian. Di antara jalan hauling yang lebar, terbentang jembatan tali di antara pepohonan — canopy bridge — tempat siamang dan monyet ekor panjang melintas di atas truk tambang yang beroperasi di bawahnya.

 

Jembatan arboreal ini bukan proyek simbolik. Ia adalah hasil riset dan dialog panjang antara tim lingkungan, masyarakat lokal, dan lembaga konservasi. Di sini, konservasi bukan tambahan, melainkan bagian integral dari desain tambang.

 

“Filosofi kami sederhana,” ujar Katarina Siburian Hardono, Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources, yang mengelola Tambang Emas Martabe. “Kalau kita menambang dengan ilmu dan hati, maka alam tak harus dikorbankan. Kita bisa hidup berdampingan.”

 

Filosofi itu tampak nyata. Area rehabilitasi Martabe kini menjadi tempat tumbuhnya kembali spesies tanaman lokal dan habitat bagi burung endemik. Air limbah diolah dengan teknologi ramah lingkungan sebelum kembali ke sungai. Bahkan di tepi pesisir, perusahaan ikut menanam mangrove dan melepas tukik ke laut — bentuk tanggung jawab ekologis yang melampaui wilayah operasinya sendiri.

 

 

 

Sosial: Membangun dari Rasa Percaya

 

Keberlanjutan tidak pernah berdiri di atas beton mesin semata. Ia bertumpu pada rasa percaya. Dan kepercayaan, bagi Martabe, hanya bisa tumbuh melalui komunikasi yang terbuka.

 

Di desa Aek Pining, misalnya, Rudi Simangunsong kini dikenal sebagai peternak lebah madu. Dulu ia skeptis terhadap kehadiran tambang. “Kami pikir nanti air kotor, hutan habis,” ujarnya. Tapi kini ia justru menjadi bagian dari program Martabe Hive Project — pelatihan budidaya lebah dan konservasi tanaman berbunga di sekitar tambang. “Sekarang kami tahu, kalau kita diajak bicara dan dilibatkan, kita bisa maju bersama,” katanya sambil menunjukkan hasil madu dari kebun desanya.

Baca Juga  Pemko Siantar Hadiri Ibadah Syukuran Tahun Baru Sinode GKPI

 

Cerita seperti Rudi bukan satu dua. Di sekitar Batangtoru, puluhan usaha mikro tumbuh dari program pengembangan masyarakat Martabe. Ada pelatihan pertanian organik, beasiswa untuk anak desa, hingga kegiatan literasi lingkungan bagi siswa SD.

 

Yang membedakan, semua itu tidak berjalan sepihak. Martabe membangun Community Engagement Dialogue — forum komunikasi dua arah yang rutin mempertemukan masyarakat, pemerintah, dan manajemen tambang. Masalah dibahas terbuka, solusi dicari bersama. Dalam bahasa Katarina, “komunikasi bukan untuk memoles citra, tapi untuk membangun rasa saling memahami.”

 

 

 

Governance: Transparansi yang Menumbuhkan Kepercayaan

 

Keberhasilan Martabe meraih penghargaan PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Asia Sustainability Award, bukan semata karena kepatuhan administratif. Di baliknya, ada tata kelola yang dibangun dengan transparansi.

 

Setiap kebijakan lingkungan dan sosial disusun melalui Martabe Communication Loop — sistem informasi internal yang mengalirkan data dan masukan dari lapangan hingga manajemen puncak, lalu kembali ke masyarakat dalam bentuk keputusan terbuka.

 

Transparansi inilah yang melahirkan kepercayaan, dan kepercayaan itulah yang menjaga keberlanjutan. Prinsipnya sederhana namun tegas: transparency breeds trust; trust sustains sustainability.

 

Di dunia industri yang sering dituding penuh rahasia, pendekatan ini terasa segar. Di Martabe, informasi bukan dikunci, melainkan dibagi. Laporan keberlanjutan tidak hanya untuk regulator, tapi juga disosialisasikan kepada masyarakat dan media dalam bahasa yang mudah dipahami.

 

 

 

Media: Mitra dalam Literasi Keberlanjutan

 

Martabe menyadari, opini publik tentang pertambangan terbentuk bukan dari laporan teknis, melainkan dari narasi. Karena itu, mereka memilih untuk membangun literasi — bukan sekadar publisitas.

Baca Juga  Pemkab Simalungun Komitmen Dukung Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Banjir di Sumut

 

Melalui program Media Capacity Building, perusahaan melatih jurnalis lokal memahami terminologi tambang, konservasi, dan manajemen risiko lingkungan. Hasilnya, berita tentang Martabe kini tak lagi sekadar memuji atau mengkritik, tetapi menulis dengan perspektif ilmiah dan berimbang.

 

“Wartawan itu mitra pengetahuan,” kata Katarina. “Mereka bagian dari ekosistem ESG. Tanpa jurnalis yang paham, publik tak akan percaya.”

 

Pendekatan ini menciptakan sesuatu yang jarang terjadi di dunia industri: simbiosis yang sehat antara korporasi dan media — di mana kepercayaan dibangun melalui pemahaman, bukan propaganda.

 

 

 

ESG sebagai Kesadaran Kolektif

 

Dalam konteks global, ESG sering dianggap jargon investor. Namun di Batangtoru, ia hidup sebagai kesadaran kolektif. Karyawan tambang tahu arti menjaga pohon reklamasi. Anak-anak sekolah belajar menanam bibit di lahan bekas tambang. Masyarakat memahami kenapa air sungai harus diuji rutin. Semua terhubung dalam sistem komunikasi yang jujur dan empatik.

 

ESG di Martabe bukan sekadar Environmental, Social, Governance — tetapi juga Empathy, Synergy, Growth: empati yang melahirkan sinergi, sinergi yang menumbuhkan pertumbuhan berkelanjutan.

 

 

 

Refleksi: Harmoni di Jantung Tambang

 

Suatu sore, dari tepi Sungai Batangtoru, suara mesin tambang terdengar samar, berbaur dengan kicau burung dan desir angin dari hutan sekunder. Di sana, batas antara industri dan alam seakan melebur.

 

Mungkin inilah wajah baru pertambangan Indonesia — wajah yang tak lagi kaku dan menakutkan, melainkan penuh dialog, inovasi, dan hati nurani.

 

Ketika dunia berbicara tentang dekarbonisasi, energi hijau, dan tanggung jawab sosial, Martabe memberi bukti: keberlanjutan bukan hanya soal teknologi tinggi, melainkan soal niat untuk mendengar, memahami, dan berbuat.

 

Dari Batangtoru, kita belajar bahwa emas sejati bukanlah yang diambil dari perut bumi, melainkan yang tumbuh dari kesadaran manusia: bahwa hidup bersama alam, dengan hormat dan harmoni, adalah keberlanjutan itu sendiri. *(Penulis Pemred intipos.com dan tulisan ini diikutkan dalam Lomba Karya Jurnalistik Martabe)*