Sumut Halal Fest Bobby Nasution, dari 1.000 Sertifikat hingga Tabligh Akbar Ustadz Hilman Fauzi
4 min read
MEDAN | Intipos.com — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Bobby Nasution kembali menempatkan penguatan ekonomi halal sebagai bagian penting dari agenda pembangunan daerah.
Pesan itu akan dikemas melalui Sumut Halal Fest 2026 di Kantor Gubsu areal Eks Medan Ckub Medan 26–27 Agustus 2026.
Gebyar ini disiapkan bukan sekadar sebagai pameran produk halal, tetapi sebagai ruang untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan sertifikasi, pembiayaan, perbankan, pasar, dan pengetahuan ekonomi syariah.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Sumatera Utara Ir. Yuliani Siregar, M.AP. memaparkan itu, Selasa (18/8/26)..
Bagi Yuliani, penguatan UMKM tidak cukup hanya dengan mendorong masyarakat menghasilkan produk.
Produk tersebut harus memiliki kualitas, kepastian halal, akses pembiayaan, kemampuan memasuki pasar yang lebih luas, hingga peluang untuk naik kelas.
Karena itu, Sumut Halal Fest dirancang dengan semangat “Kolaborasi Akselerasi Penguatan Ekosistem Halal melalui Sertifikasi Halal, Integrasi Ekonomi Syariah dan Digitalisasi untuk Mendukung Stabilitas serta Transformasi Ekonomi Sumatera Utara.”
Ada setidaknya tiga pintu yang dibuka Pemprov Sumut dalam gelaran ini.
Pertama, memudahkan UMKM masuk ke ekosistem halal.
Yuliani menyampaikan, Pemprov Sumut akan memfasilitasi penerbitan 1.000 sertifikat halal secara gratis bagi pelaku UMKM. Program tersebut menjadi salah satu langkah konkret untuk membantu pelaku usaha meningkatkan daya saing produknya sekaligus memperluas peluang pemasaran.
Fasilitasi tersebut dirangkai dengan workshop 1.000 UMKM Go Halal, expo produk halal, serta desk layanan izin usaha, izin edar, dan sertifikasi halal.
Bagi pelaku usaha kecil, sertifikasi bukan semata label.
Ia merupakan bagian dari upaya membangun kepercayaan konsumen sekaligus membuka pintu menuju pasar yang lebih luas.
Di sinilah gagasan Yuliani menjadi menarik. Ia tidak ingin program halal berhenti pada penerbitan sertifikat. Sertifikasi harus menjadi bagian dari perjalanan UMKM menuju produk yang lebih kompetitif, berkualitas, dan memiliki jaminan halal.
Kedua, mempertemukan UMKM dengan akses pembiayaan dan pasar.
Dalam agenda ini, peran Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Utara juga menjadi bagian penting dari kolaborasi. Menurut Yuliani, penguatan UMKM tidak dapat dilakukan pemerintah sendirian.
Dukungan BI diperlukan terutama dalam memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah, membuka akses pembiayaan, serta mempertemukan pelaku usaha dengan lembaga keuangan melalui business matching.
Kolaborasi Pemprov Sumut dan BI Sumut tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM diarahkan tidak berhenti pada produksi dan sertifikasi, tetapi berlanjut hingga akses modal, perluasan pasar, dan penguatan kapasitas usaha.
Sumut Halal Fest menghadirkan business matching pembiayaan, bazar dan pameran UMKM, Halal Centre, layanan perbankan, serta berbagai forum yang mempertemukan pelaku usaha dengan ekosistem pendukungnya.
Di titik ini, kegiatan tersebut menjadi lebih dari sekadar festival.
Ia berpotensi menjadi ruang pertemuan antara produk, modal, pasar, dan konsumen.
Bahkan, langkah itu sejalan dengan agenda lebih besar Dinas Koperasi dan UKM Sumut untuk mendorong UMKM menembus pasar global. Dalam program Sumut Digital Market, misalnya, sebanyak 100 UMKM potensial ekspor disiapkan mendapatkan pendampingan, termasuk pemanfaatan marketplace global.
Ketiga, membangun literasi ekonomi syariah.
Forum dan talkshow ekonomi syariah, data ekonomi syariah, Halal Centre, hingga layanan perbankan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Namun, ada satu magnet lain yang kemungkinan besar akan menarik perhatian publik.
Pada rangkaian acara juga dijadwalkan Tabligh Akbar bersama Ustadz Hilman Fauzi, seorang dai muda yang dikenal luas dengan gaya dakwah yang ringan, komunikatif, dan dekat dengan generasi muda.
Sejumlah sumber menyebut Hilman Fauzi sebagai penceramah muda yang populer melalui tausiyah dan konten dakwah di media sosial.
Kehadirannya memberikan warna berbeda.
Festival ekonomi halal tidak hanya berbicara tentang transaksi, sertifikasi, modal dan pasar, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual masyarakat.
Dengan demikian, Sumut Halal Fest 2026 seperti mempertemukan tiga kekuatan sekaligus: iman, UMKM, dan ekonomi.
Bagi Bobby Nasution, pendekatan semacam ini penting.
Ekonomi halal tidak cukup dibangun dari atas melalui kebijakan pemerintah. Ia membutuhkan kolaborasi dengan Bank Indonesia, kementerian terkait, perbankan, pelaku usaha, lembaga sertifikasi, komunitas, dan masyarakat.
Itulah sebabnya kata kolaborasi menjadi sangat penting dalam agenda tersebut.
Pemprov tidak hanya menyediakan panggung. Ekosistemnya yang hendak dibangun.
Dan di sinilah posisi Yuliani menjadi strategis. Baru dipercaya memimpin Dinas Koperasi dan UKM, ia langsung membawa sejumlah gagasan yang berorientasi pada penguatan ekosistem, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Sebelumnya, Yuliani juga memaparkan rencana transformasi PLUT menjadi Mall Layanan UMKM Terintegrasi. PLUT di kawasan PRSU diarahkan bukan hanya sebagai tempat konsultasi, tetapi kelak menjadi pusat layanan, pendampingan, promosi, legalitas, sertifikasi, pembiayaan, hingga pemasaran produk UMKM Sumatera Utara.
Rencana itu bahkan diarahkan agar PLUT dapat menjadi pusat pemasaran produk UMKM Sumut sebagaimana pusat oleh-oleh dan pemasaran produk daerah di sejumlah provinsi lain.
Dari sini terlihat benang merahnya.
Sumut Halal Fest bukan program yang berdiri sendiri.
Ia menjadi salah satu bagian dari desain lebih besar Yuliani untuk membawa UMKM Sumatera Utara dari sekadar bertahan menuju naik kelas.
Karena itu, ukuran keberhasilan festival ini nantinya bukan semata ramainya pengunjung.
Yang jauh lebih penting adalah berapa banyak UMKM yang memperoleh sertifikasi, mendapatkan akses pembiayaan, memperluas pasar, memperbaiki kualitas produk, dan kemudian mampu tumbuh lebih besar.
Di situlah Sumut Halal Fest 2026 menemukan maknanya.
Ia bukan sekadar gebyar dua hari.
Jika seluruh rangkaiannya berlanjut menjadi ekosistem yang bekerja setelah festival berakhir, kegiatan ini dapat menjadi salah satu instrumen untuk menerjemahkan visi Kolaborasi Sumut Berkah ke dalam denyut ekonomi masyarakat.
Dan dari kawasan PRSU, Sumatera Utara sedang mencoba menunjukkan bahwa ekonomi halal bukan lagi sekadar ceruk pasar.
Ia bisa menjadi kekuatan baru pertumbuhan ekonomi daerah.
Bagi Bobby Nasution, inilah tantangannya: memastikan kolaborasi tidak berhenti di panggung festival.
Bagi Yuliani Siregar, inilah salah satu gebrakan awalnya: membuat UMKM tidak hanya mendapatkan sertifikat halal, tetapi mendapatkan jalan menuju pasar, pembiayaan, kualitas, dan masa depan usaha yang lebih besar.
*Jika itu berhasil, Sumut Halal Fest tidak berhenti sebagai sebuah acara. Ia berubah menjadi gerakan ekonomi.(01)
