Ecoprint Situs Bongal: Ketemu Seni, Sejarah, dan Alam di Rumah Budaya Tangga
2 min read
Medan | Intipos.com – Rumah Budaya Tangga di Jalan Letjen Suprapto No. 11, Hamdan, Kecamatan Medan Maimun, menjadi saksi kreativitas sekaligus pelestarian budaya lewat Workshop dan Pameran Ecoprint Tanaman Purba Situs Bongal. Kegiatan berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB dan dibuka secara resmi oleh Bapak Jimmy Siahaan, pengurus Rumah Budaya Tangga. Selasa (16/12/25)
Dalam sambutannya, Jimmy menekankan bahwa ecoprint berbasis tanaman purba bukan sekadar seni, tetapi juga cara nyata untuk melestarikan budaya dan lingkungan.
“Tanaman seperti daun kafur, kemenyan, dan gaharu tidak hanya indah, tapi memiliki nilai historis yang tinggi. Mereka menghubungkan kita dengan jejak perdagangan dan budaya pesisir barat Sumatera tempo dulu, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga alam agar warisan budaya tetap hidup,” ujarnya.
Ketua pelaksana, Ika Purnamasari, menambahkan, workshop ini dirancang sebagai ruang edukasi sekaligus kreatif. Peserta tidak hanya menonton, tetapi terlibat langsung dalam proses pembuatan ecoprint, mulai dari pengenalan bahan, pemilihan motif, hingga teknik pencetakan di atas kain. Aktivitas ini memberikan pengalaman langsung bagaimana alam bisa diubah menjadi karya seni yang kaya makna dan estetika.
Selain workshop, pameran ecoprint menampilkan berbagai karya tekstil yang memadukan motif alami dengan kearifan lokal. Setiap karya bercerita tentang harmoni manusia dengan alam, sekaligus menjadi simbol pelestarian lingkungan.
Kain-kain dengan motif tanaman purba ini tak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga menyiratkan cerita sejarah dan ekonomi berbasis budaya yang penting bagi wilayah Sumatera Utara.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Semarak Budaya 2025, sebagai bagian dari upaya mendorong penguatan ekosistem kebudayaan, pelestarian warisan lokal, dan pengembangan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Dengan workshop dan pameran ini, masyarakat diharapkan semakin menyadari pentingnya menjaga tanaman purba dan situs sejarah, sekaligus membuka peluang baru untuk mengembangkan seni kriya ramah lingkungan.
Melalui pendekatan kreatif ini, Rumah Budaya Tangga berharap generasi muda bisa lebih dekat dengan sejarah dan alam, sehingga kesadaran akan pelestarian budaya tidak hanya menjadi wacana, tetapi juga praktik nyata yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (Ay29)
