17 Agustus 2026

Media Berita Online Lugas – Tegas – Terpercaya

Aset Jaringan Digital Rp85,7 Triliun Dialihkan, Perkuat Infrastruktur Konektivitas Nasional

2 min read

Jakarta | Intipos.com — Penataan bisnis infrastruktur digital memasuki tahap penting setelah pengalihan aset dan bisnis senilai Rp85,7 triliun untuk memperkuat pengelolaan jaringan konektivitas nasional.

 

Langkah tersebut mencakup penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2 dengan nilai transaksi Rp49,9 triliun. Kebijakan ini diarahkan untuk membangun pengelolaan infrastruktur digital yang lebih fokus, efisien, dan mampu merespons kebutuhan pasar.

 

Setelah pengalihan tahap kedua, lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan berada dalam pengelolaan PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia). Portofolionya mencakup sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik.

 

Dari jumlah tersebut, sekitar 26.000 kilometer merupakan Sistem Komunikasi Kabel Laut domestik yang membentang di berbagai wilayah Indonesia. Infrastruktur tersebut menjadi fondasi pengembangan layanan wholesale connectivity dan pemerataan akses digital.

 

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan penataan tersebut merupakan bagian dari strategi TLKM 30, terutama melalui percepatan monetisasi aset infrastruktur bernilai tinggi.

 

“Spin-Off InfraCo Tahap 2 menjadi langkah strategis untuk memperkuat InfraNexia sebagai mesin pertumbuhan baru,” kata Dian.

 

Menurut dia, pemisahan pengelolaan infrastruktur diharapkan meningkatkan efisiensi, memperluas peluang kemitraan, sekaligus memperkuat kualitas layanan konektivitas digital nasional.

 

Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji menilai langkah tersebut merupakan bagian dari penataan portofolio untuk membangun bisnis infrastruktur digital dengan proposisi nilai yang lebih kuat.

 

Sementara itu, Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf mengatakan penguatan aset akan diarahkan pada pengembangan 5G backhaul, jaringan wholesale, FTTx, serta passive infrastructure sharing.

 

InfraNexia juga mempercepat modernisasi jaringan dan penerapan autonomous network. Langkah tersebut diproyeksikan mendukung kebutuhan konektivitas untuk perkembangan kecerdasan buatan, cloud, dan pusat data.

 

Meskipun mayoritas saham InfraNexia tetap dimiliki Telkom, entitas tersebut diarahkan beroperasi secara profesional dan melayani pelanggan secara lebih terbuka. Proses pengalihan juga disebut tidak mengganggu layanan yang sedang berjalan.

 

Penataan ini sekaligus menjadi bagian dari pergeseran Telkom menuju model strategic holding, dengan pengelolaan aset dan bisnis yang lebih fokus serta diarahkan pada penciptaan nilai jangka panjang bagi ekosistem digital nasional. (01)