Air Mata di Balik Bilik: Penyesalan Seorang Pasien Saat Tak Bisa ke TPS
5 min read
Penyesalan Seorang Pasien Saat Tak Bisa ke TPS
Oleh Ir Zulfikar Tanjung
Di sebuah bilik rawat inap di Rumah Sakit Dr. Pirngadi, Medan, Pak Tora (57) terbaring lemah. Selang oksigen menempel di hidungnya, sementara monitor di sisi tempat tidur memantau detak jantungnya yang tak stabil. Sudah sebulan ia dirawat akibat serangan jantung yang hampir merenggut nyawanya. Di tengah kondisinya yang kritis, Pak Tora tak mampu menahan air mata saat berbicara tentang Pilkada 2024.
“Hati saya berat sekali,” katanya dengan suara bergetar. “Hari ini, 27 November 2024, saya tidak bisa datang ke TPS (tempat pemungutan suara). Dulu, saat sehat, saya biasa saja memilih golput. Tapi sekarang, hanya untuk melangkah ke bilik suara, rasanya seperti mimpi yang tak akan tercapai,” lanjutnya dengan mata berkaca. Ada linangan air mata.
Pak Tora mengenang masa-masa ketika tubuhnya sehat dan kuat. Kesibukan bekerja dan keengganan terlibat dalam politik membuatnya memilih absen dari setiap pemilu. Menurutnya, satu suara tak akan mengubah apa pun. Namun, pemikiran itu kini berbalik tajam.
“Dari ranjang ini, saya menyadari, kesempatan ke TPS itu adalah anugerah. Ketika sehat, saya mengabaikannya. Sekarang, saya hanya bisa berharap,” ujarnya. Dengan suara serak dia mengakui motto Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara, “Rakyat Memilih Rakyat Menentukan”, bukan sekedar jargon, melainkan ruh perjuangan yang menggema sebagai rahmat untuk disyukuri bersama.
Dalam kesunyian bilik rumah sakit, Pak Tora merenungkan bagaimana banyak orang sehat sering mengabaikan hak pilih. Kini dia sadar kesempatan berkontribusi menentukan masa depan bangsa adalah sebuah anugerah yang sering diremehkan. “Saya melihat orang-orang yang masih sehat, mereka punya kesempatan besar untuk ke TPS, tapi memilih untuk tidak peduli,” tambahnya. “Padahal, bagi orang seperti saya sekarang, pergi ke TPS adalah kebahagiaan yang tak ternilai.”
Memang, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2024 sebenarnya sudah tersosialisasi luas. Bahkan semua komisioner KPU Propinsi Sumatera Utara, mulai dari Ketua Agus Arifin, El Suhaimi, Frendianus Joni Rahmat Zebua, Kotaris Banurea, Raja Ahab Damanik, Robby Effendy dan Sitori Mendrofa, sejak tahapan Pilkada bergelinding, dalam setiap kesempatan sesuai bidang tugas masing-masing, mereka tetap saja menyempatkan ajakan ke TPS.
Kisah Pak Tora merupakan refleksi di tengah ketidakberdayaan. Di luar rumah sakit, ribuan warga berbondong-bondong menuju TPS, membawa harapan mereka untuk pemimpin yang lebih bagus, baik gubernur maupun bupati dan walikota. Namun bagi Pak Tora, ia hanya bisa menyaksikan hiruk-pikuk itu lewat layar televisi. Setiap liputan TPS membuat dadanya terasa sesak, bukan hanya karena penyakitnya, tetapi karena rasa penyesalan yang mendalam.
“Saat sehat, saya tidak pernah berpikir betapa berharganya hak suara itu. Tapi di sini, saya belajar bahwa suara saya penting. Kesempatan untuk memilih adalah salah satu momen paling berharga yang kita miliki,” ucapnya sambil menyeka air mata.
[Golput: Menyayangkan Kesempatan]
Secara hukum, tidak ada larangan bagi warga negara untuk memilih golput. Undang-Undang Pemilu tidak mewajibkan masyarakat untuk datang ke TPS, meskipun setiap suara yang tidak digunakan adalah kehilangan potensi untuk menentukan arah bangsa.
Ketua KPU Sumut Agus Arifin berulang mengemukakan untuk Pilkada 2024 ini mereka berjuang kuat agar partisipasi pemilih meningkat. Kalau pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut tahun 2018 partisipasi pemilih 63 persen maka tahun 2024 ini diharapkan naik signifikan.
KPU Sumut selama ini telah berusaha keras melakukan sosialisasi untuk mengurangi angka golput dengan berbagai model termasuk melibatkan media massa cetak, online maupun elektronik.
Patut diapresiasi, dalam pelibatan media massa, KPU Sumut benar-benar terbuka dan kooperatif tanpa membeda-bedakan media. Semua media yang mendaftar ke KPU Sumut diberikan akses yang sama untuk mendapatkan iklan sosialisasi termasuk iklan ajakan ke TPS 27 Nopember 2024. Kalau untuk berita jurnalistik, media apa dan media mana pun, semua dilayani akses informasi yang setara.
Namun Pak Tora memiliki pandangan berbeda. “Seharusnya bukan KPU yang mengajak kita ke TPS. Kita sendiri yang harus menuntut jaminan agar bisa memilih,” katanya tegas.
Pak Tora merasa bahwa kesehatan, waktu luang, dan suasana kondusif adalah karunia yang sering diabaikan. Ketika ketiganya hilang, barulah kita menyadari betapa besar artinya memiliki kesempatan untuk hadir di TPS.
“Orang sehat yang golput tidak tahu apa yang mereka lewatkan. Kalau saja saya punya tenaga untuk berjalan ke TPS, saya akan melakukannya tanpa berpikir dua kali,” ujarnya.
[Pelajaran dari Sebuah Ranjang Rumah Sakit]
Pengalaman Pak Tora membawa refleksi bagi kita semua. Di saat sehat, kita sering menganggap remeh hal-hal sederhana. Kemampuan berjalan ke TPS, berdiri dalam antrean, dan mencoblos kertas suara adalah wujud nyata dari kebebasan dan hak yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang mampu.
Kisah Pak Tora menyiratkan pesan kuat: “Nikmat sehat adalah modal besar untuk berkontribusi pada masa depan. Jangan sampai kesempatan itu disia-siakan.”
Pak Tora, kisahnya dapat menggugah kesadaran masyarakat yang sehat dan memiliki waktu untuk datang ke TPS. Baginya, pemilu adalah lebih dari sekadar kewajiban. Itu adalah bentuk rasa syukur atas kesempatan yang tidak dimiliki semua orang.
“Kita yang sehat harusnya berlomba-lomba datang ke TPS. Jangan sampai kita hanya menyesal, seperti saya sekarang,” ucapnya lirih.
Pak Tora kini masih berjuang untuk memulihkan kesehatannya. Di balik ranjang rumah sakitnya, ia menitipkan harapan untuk Indonesia: semoga semua suara yang disuarakan di TPS dapat membawa perubahan besar. Dan untuk mereka yang sehat, jangan pernah sia-siakan hak itu. Karena mungkin, suatu hari nanti, seperti Pak Tora, kita akan merindukan kesempatan itu lebih dari apa pun.
Pak Tora juga menceritakan bagaimana perawatannya selama ini membawanya pada refleksi mendalam tentang tanggung jawab sebagai warga negara. Semoga kisah ini menambah kesadaran bahwa Pilkada tahun ini menjadi pengingat bagi banyak pihak akan pentingnya partisipasi aktif dalam demokrasi.
Bagi Pak Tora, meskipun ia tidak dapat hadir secara fisik di TPS, Syukur lah hak suaranya masih bisa tersalurkan karena KPU mendatangkan petugas ke rumah sakit-rumah sakit untuk pasien menggunakan hak pilih. Ini juga menambah kesedihan baginya karena suara itu tidak dilakukannya di bilik suara di TPS sebagaimana mereka yang sehat.
Dia berharap kisahnya bisa menjadi pelajaran bagi mereka yang masih memiliki kesempatan. “Gunakan hak pilih Anda di TPS. Karena hanya ketika kita kehilangan kesempatan itu, kita menyadari betapa berharganya momen tersebut.”
Kisah Pak Tora adalah cerminan dari banyak individu yang terlambat menyadari betapa pentingnya suara mereka. Di balik bilik suara, tersimpan harapan akan perubahan, harapan yang mungkin takkan bisa diwujudkan tanpa kehadiran setiap suara. Pak Tora berharap, di tengah keterbatasannya, ia dapat menginspirasi orang lain untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang masih mereka miliki.
“Pilihlah dengan hati,” Pak Tora berpesan, “Karena suara Anda adalah wujud dari cinta kepada bangsa dan mensyukuri nikmat sehat ini,” ujar Pak Tora yang namanya agak disamarkan atas permintaannya. (Penulis Berkompetensi Wartawan Utama Dewan Pers)
