Media Berita Online Lugas – Tegas – Terpercaya

Sukses 3M dan Ubah Laku Kunci Akselerasi Pemulihan Ekonomi

3 min read
Sukses 3M

INTIPOS | MEDAN – Keberhasilan atau sukses disiplin 3M dan Ubah Laku sesuai protokol kesehatan yang mendukung pondasi utama efektivitas penanganan Covid-19 merupakan kunci akselerasi pemulihan ekonomi ke depan.

Demikian salah satu bahasan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) Propinsi Sumatera Utara (Sumut) Tahun 2020 di Hotel Adimulia Jalan Pangeran Diponegoro Medan, Kamis (03/12), dihadiri Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, Kepala Perwakilan BI Sumut Wiwiek Sisto Widayat dan lainnya.

Salah satu rekomendasi dari pertemuan tahunan itu bahwa penanganan Covid-19 yang efektif menjadi kunci akselerasi pemulihan ekonomi ke depan. Langkahnya adalah penyediaan vaksin bagi kelompok rentan, sekaligus mempersiapkan sarana kesehatan yang lebih baik.

Untuk penanganan efektif itu, disiplin 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak harus benar-benar berhasil menjadi perilaku baru dan budaya masyarakat maupun semua pihak tanpa terkecuali.

“Kemudian menjaga proses transisi pemulihan ekonomi seperti sektor prioritas aman dan produktif dengan risiko penularan rendah tetapi memiliki daya dukung potensi ekspor yang tinggi,” ujar Perwakilan BI Sumut Wiwiek Sisto Widayat.

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengemukakan sinergi semua pihak dalam rangka pemulihan ekonomi bangsa menjadi catatan penting, agar masa sulit akibat dampak pandemi Covid-19 bisa dilalui bersama demi kesejahteraan masyarakat.

Gubernur mengapresiasi motivasi Perwakilan BI Sumut bagi upaya pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19. Sebab, imbauan untuk semua pihak saling bersinergi, sangat penting dijalankan. Sehingga kerja bersama demi kesejahteraan masyarakat bisa dicapai dengan saling bergandengan tangan.

Baca Juga  Pj Sekdaprov Sumut Sebut Kualitas Data Sensus Ekonomi 2026 Tentukan Arah Pembangunan Daerah

baca juga : Gebrak Masker PKK Sumut dan IKAPTK Mendapat Apresiasi Pjs Walikota Tanjungbalai

“Bersinergi, artinya kita berkerja sama bergandengan tangan dengan segala keterbatasan kita, batas kemampuan kita masing-masing. Saya ingin keutuhan kita ini jelas, karena Covid-19 yang menerpa bangsa kita khususnya Sumut, dampaknya adalah perekonomian,” ujar Gubernur.

Karena itu, kata Gubernur, fokus utama saat ini selain penanggulangan kesehatan dan gerakan disiplin 3M maupun Ubah Laku adalah mengatasi pertumbuhan ekonomi yang melambat akibat pandemi. Dimana optimisme muncul seiring menurunnya angka terpapar Covid-19 yang pada pertengahan tahun 2020 mencapai 260-290 orang perhari menjadi 60-80 per hari.

“Yang saya khawatirkan adalah keresahan masyarakat yang menimbulkan gejolak sosial. Tetapi saya tidak bicara ideologi, karena fokus kita hari ini ke pertumbuhan ekonomi yang pengendaliannya (komando) adalah Bank Indonesia, yang harus kita dukung sesuai tugas kita masing-masing,” sebut Edy Rahmayadi.

Edy pun berharap semua pihak saling memahami sulitnya kondisi bangsa saat ini. Karena itu penguatan persatuan harus diutamakan, dengan mengenyampingkan ego sektoral. Sebab, kata sinergi memiliki makna dan implikasi terhadap upaya membangkikan perekonomian.

“Kita serahkan kepada ahlinya. Tetapi kita menyambut, membantu, mendorong sesuai porsi kita. Semoga Tuhan memberikan kemudahan untuk kita semua. Tuhan akan memberikan kemudahan ini apabila kita sudah bersinergi, meminta, memohon dan berusaha untuk kesejahteraan rakyat kita semua,” pungkas Edy.

Wiwiek Sisto Widayat menjelaskan bahwa secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi melambat dari tahun sebelumnya akibat penurunan permintaan konsumsi, seiring turunnya pendapatan masyarakat di masa pandemi Covid-19.

Baca Juga  Bukan Sekadar Seremonial, Lapas Lubuk Pakam Gaungkan Ikrar Pemasyarakatan Bersih

baca juga : https://siberindo.co/04/12/2020/pemerintah-mau-bangun-rumah-perlindungan-perempuan-di-setiap-daerah/

“Sementara ketidakpastian ekonomi menyurutkan niat pelaku usaha untuk berinvestasi dan lebih bersikap wait and see. Pelambatan juga terjadi pada investasi pemerintah, dengan relokasi belanja modal ke dana penanganan Covid-19,” ujarmya.

Disampaikan Wiwiek, dari sektor usaha transportasi, akomodasi dan makan minum, perdagangan mengalami dampak besar dengan penurunan masing-masing 17,87%, 14,54% dan 3,76% dari tahun sebelumnya (yoy). Sementara lemahnya permintaan, menahan sektor industri pengolahan sebesar 1,47% (menurun).

“Laju perekonomian ditopang oleh sektor pertanian. Dengan stabilnya permintaan bahan makanan sabagai kebutuhan pokok (naik 1,12%),” kata Wiwiek.

Dikemukakannya sesuai hasil assesment yang dilakukan pihaknya ada 10 sub sektor yang dapat diprioritaskan pengembangannya di Sumut, antara lain tanaman pangan, perkebunan, peternakan, jasa keuangan dan asuransi, industri makanan dan minuman, konstruksi, perdagangan, hortikultura, kehutanan serta perikanan.

Selain itu, lanjutnya, tiga sektor utama yaitu pertanian, industri pengolahan dan perdagangan juga memiliki daya serap tenaga kerja yang sangat besar. Langkah ini yang dinilai dapat membantu menghadapi tantangan di masa pandemi seperti peningkatan kasus Covid-19, rendahnya kemandirian fiskal dan rendahnya daya tahan UMKM dikarenakan berbagai sebab.

Untuk itulah pihaknya menekankan langkah sinergi semua pihak untuk saling mendukung ke arah pemulihan ekonomi demi kesejahteraan masyarakat Indonesia khususnya Sumut yang bermartabat. (intipos/red)