Sumut Dapat Lebih Baik Jika Adaptasi Manajemen Air Bersih Batam

By Abdi Aryansyah 20 Okt 2019, 16:42:15 WIBPemerintahan

Sumut Dapat Lebih Baik Jika Adaptasi Manajemen Air Bersih Batam

Keterangan Gambar : Kunjungan Komparatif Forum Wartawan Unit Pemprovsu yang difasilitasi Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprov Sumut


Intipos.com | Batam - Prinsip-prinsip manajemen tata kelola air bersih termasuk relevansinya dengan pengelolaan air limbah hingga ke daur ulang di Pulau Batam perlu diadaptasi oleh Pemprov maupun Pemkab dan Pemko se-Sumut.

Adaptasi siatem dimaksud harus benar-benar objektif, profesional dan bebas dari berbagai kepentingan bersifat politis sehingga hasilnya diyakini Sumut mampu lebih baik dibanding Batam dalam pengelolaan air bersih dan limbah, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Demikian salah satu kesimpulan Kunjungan Komparatif Forum Wartawan Unit Pemprovsu yang difasilitasi Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprov Sumut dalam rangka pengayaan wawasan wartawan ke Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP) Batam, Jumat (18/10/2019).

Kunjungan yang berlangsung sejak Kamis (17/10) hingga Minggu (20/10) selain ke BP Batam juga ke Pulau Bintan mempelajari langsung kemajuan kepariwisataan setempat guna masukan kepada Pemprovsu.

Kunjungan itu dipimpin Kepala Bagian Pelayanan Media Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprov Sumut, Harvina Zuhra, dan Ketua Forum Wartawan Pemprovsu, Khairul Muslim. Kunjungan diterima Kepala Kantor Pengelolaan Air dan Limbah BP Batam yang diwakili Kepala Bidang Pengelolaan Waduk, Hadjad Widagdo, serta Kepala Sub Direktorat Hubungan Masyarakat BP Batam, Yudi Haripurdaya.

Optimistis Sumut bisa lebih baik jika mengadaptasi prinsip-prinsip manajemen yang diterapkan pihak BP Batam mengingat modal dasar tata kelola air Sumut sebenarnya lebih besar dan prospektik yakni ketersediaan sumber air yang melimpah dengan benerapa alternatif khususnya air sungai, air permukaan, air bawah tanah dan mata air yang baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Namun dengan keunggulan komparatif sistem manajemen yang baik dan profesional saat ini Batam dikenal secara nasional maupun internasional memiliki tata kelola air bersih maupun limbah berkualitas. Padahal, Batam tidak memiliki sumber mata air bersih, tidak ada sungai, namun pulau yang berada di antara samudera Hindia dan samudera pasifik tersebut berhasil mengelola air dengan waduk buatannya.

Dikatakan Hadjad bahwa Batam memang tidak ada yang memasok sumber air. Batam hanya mengharap hujan sebagai sumber air. Untungnya curah hujan di Batam juga tinggi, yakni sekitar 2.400 mm per tahun.

Namun setelah adanya perubahan cuaca, elnino dan lainnya curah hujan di Batam mulai berkurang. Waduk di Batam tidak mendapatkan air hujan rutin, sehingga BP Batam melakukan teknologi agar pasokan air di waduk terus tersedia termasuk rekayasa hujan buatan.

"Jadi waduk kita di sini juga waduk buatan. Tidak ada kita danau alami seperti yang ada di Sumut misalnya Danau Toba. Waduk buatan terbesar yang kita miliki adalah Waduk Duriangkang. Dulunya ini air asin. Hanya saja sekarang sudah ditetapkan sebagai sumber air baku terbesar, karena ini memang waduk yang paling besar di Pulau Batam," ucapnya.

Selain Waduk Duriangkang dengan volume 78.180.000 m3, penyediaan air bersih di Pulau Batam juga berasal dari Waduk Sei Nongsa dengan volume 720.000 m3, Waduk Sei Boloi 270.000 m3, Waduk Sei Ladi 9.490.000 m3, Waduk Sei Harapan dengan volume 3.600.000 m3 dan Waduk Muka Kuning dengan volume 12.270.000 m3.

Selain waduk-waduk ini BP Batam juga sedang merencanakan pembangunan waduk tambahan yakni Waduk Rempang yang nantinya dengan volume 5.166.400 m3, Waduk Sei Gong dan satu lagi Waduk Tembesi yang sampai saat ini juga belum beroperasi. Total kapasitas produksi air bersih mencapai 3.535 liter/detik, sementara operasional 3.199 liter/detik

"Ke depan juga kita sedang menjajaki pengelolaan air bersih dari air laut, storm water dan sea weard system. Ada beberapa negara sedang menawarkan investasinya salah satunya Korea. Hanya saja kajiannya masih kita pelajari," kata Hadjad.

Dalam pengelolaan air bersih, BP Batam menyerahkannya kepada PT Adhya Tirta Batam (ATB). PT ini juga dinilai berhasil dalam mengelola air minum di Batam. Terbukti hingga saat ini sudah 95% yang mendapatkan manfaat air minum tersebut.

Pelanggannya selain masyarakat rumah tangga, juga pelanggan industri dan perkapalan. "Dan terbukti air yang tidak terpakai (air yang terbuang sia-sia karena kebocoran) di Pulau Batam sekitar 15-18 persen," sebutnya.

Yang juga terpenting, katanya, dalam pengelolaan air ini, BP Batam mengedepankan pelayanan bukan pendapatan. Mengingat ketersediaan air ini merupakan visi Pulau Batam. Investor yang ingin berinvestasi ke Batam juga melihat hal ini. "Karena ini sudah visi kita, masterplannya harus dibuat bagus. Uji kelayakannya benar-benar. Jangan sampai kita sudah membuat, diulang lagi," katanya.

Sementara itu, Kepala Bagian Pelayanan Media Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprov Sumut, Harvina Zuhra, menyebutkan bahwa kunjungan ke Pulau Batam ini sudah 5 kali dilakukan Pemprov Sumut.

Kemudian Ketua Forum Wartawan Pemprov Sumut, Khairul Muslim, mengatakan bahwa ada 80 an wartawan yang terverifikasi untuk meliput di Pemprovsu. "Dari 80 itu terjaring lagi 31 wartawan yang saat ini mengikuti kegiatan pengayaan wawasan wartawan tersebut," ucapnya. (mr)


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook