Sekjen MADN : Anggota DPRD Subhan Nur Layak Dihukum Adat

By Redaksi 10 Okt 2016, 09:00:10 WIBPublik

Sekjen MADN : Anggota DPRD Subhan Nur Layak Dihukum Adat

Keterangan Gambar : Subhan Nur


Intipos.com Kalbar - Pernyataan Subhan Nur salah satu Anggota DPRD  Provinsi Kalbar yang mengatakan Gubernur Cornelis mengaplikasikan adil ka talino hanya di bibir dan membesar-besarkan anggaran gawai Dayak, disebuah media cetak memantik kemarahan masyarakat Dayak, bagaimana tidak, seorang wakil rakyat harusnya tidak mengucapkan pernyataan bernada SARA, apalagi Subhan sebagai anggota Dewan yang terhormat harusnya menjunjung etika dalam bertutur kata.

Ketua DAD Kalbar yang juga Sekjen Majelis Adat Dayak Nasional, Yakobus Kumis, sangat menyesalkan pernyataan nya di sebuah media yang mengkait-kaitkan persoalan gawai dayak dengan kegiatan Sail Selat Karimata yg akan di laksanakan 15 Oktober 2016 di Kayong Utara.  "Pernyataan saudara Subhan Nur sangat tendensius, menuduh dan memendam kebencian terhadap masyarakat Dayak dan juga terhadap simbol masyarakat Dayak. Orang seperti ini tidak layak menjadi seorang anggota Dewan. Bisa memicu kemarahan Masyarakat Dayak." tegas Yakobus Kumis, di Pontianak, Minggu (9/10).

Dijelas Yakobus, Pernyataan Subhan Nur yg melecehkan keberadaan Gawai Dayak dan simbol Dayak layak di Hukum adat. Pernyataan sdr Subhan Nur terhadap even Gawai Dayak dan falsafah hidup orang Dayak(Adil Ka' Talino) menunjukan sebuah sikap sentimen dan tidak berdasar. "Kata orang zaman sekarang Mulut ember. Tidak pantas sebagai seorang anggota dewan. Lebih terhormat saudara Subhan Nur Mundur sebagai anggota DPRD Prov Kalbar." Kata Yakobus Kumis lagi.

Lebih jauh salah satu petinggi MADN itu mengungkapkan tidak mungkin Gubernur tidak mendukung, ini program untuk mempromosikan Kalimantan Barat di mata dunia terutama pulau-pulau di lautan Indonesia yang begitu indah. Sebab, tamu yang akan hadir itu perwakilan dari dalam dan luar negeri.

Terkait penyelenggaraan Gawai dan Naik dango selama ini pendanaan dan pelaksanaan nya di lakukan secara gotong royong yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat dayak secara turun temurun dalam berbagai hal. Apakah saat kelahiran, Perkawinan, Kematian, Perladangan, apalagi kalau gawai dan naik dango semuanya terlibat membantu. Solidaritas sesama warga dayak sangat tinggi.

Sebagai contoh lanjut Yakobus, pelaksanaan Gawai Dayak Tahun 2016 setahu saya tidak dapat dana dari pemda. Kalau pun ada mungkin tidak lebih dari 100 juta.

"kalau mau buat tanggapan atau pernyataan harus focus pada inti persoalan. Jangan merembet kepersoalan pribadi atau komunitas seseorang, karena bisa menimbulkan ketersinggungan komunitas atau etnis." Terang Yakobus lagi

Sabinus Singkol (71) salah satu masyarakat adat menyesalkan ada upaya oknum dewan yang memantik situasi di Kalbar yang sudah aman sejak dipimpin Cornelis, "Kalau mau jadi anggota dewan ya benar-benar jangan jadi provokator kalau mau jadi provokator jangan tinggal di Kalimantan, kami mau hidup berdampingan dengan damai antar sesama enak di Kalbar," tegas Sabinus Singkol.

Dirinya menyesalkan Subhan menghubung-hubungkan anggaran gawai dayak dengan Sail Selat Karimata karena sangat tidak proporsional. Pun kata Sabinus bukan masalah mayoritas dan minoritas dalam memberi bantuan. "Selama ini juga Gubernur kita sudah sangat adil, semua mendapat pembangunan," pungkasnya. (Sartiman)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Online Support (Chat)

Yudi Pratama

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Silahkan lakukan penilaian untuk informasi yang kami sajikan
  Sangat Baik
  Baik
  Cukup Baik
  Kurang
  Buruk

Komentar Terakhir